Masjid Beratap Seng!

 

    Tidak perlu menjadi entreuprener atau pengusaha atau wiraswastawan atau apalah namanya untuk mengerti untung dan rugi. Jika anda dijanjikan 10.000 kenapa mau ngambil yang 100, kalau anda diberi 27 kebaikan kenapa mau ngambil yang 1 kebaikan. Ya itulah kira-kira kalau anda berpikir memakai kacamata pedagang, bukan membicarakan tentang duit tapi tentang sholat. Bukan rahasia umum sholat berjamaah apalagi di masjid mempunyai nilai lebih dibandingkan sholat sendirian. Bersyukurlah anda apabila tempat tinggal anda termasuk kategori yang strategis yaitu dekat dengan Masjid, kost saya masuk kategori ini. Bagi yang merasa jauh dari Masjid jangan berkecil hati, justru seharusnya anda bergembira karena apabila anda berjalan menuju masjid, tiap langkah anda dihitung sebagai kebaikan. Membicarakan masjid dekat kost saya, memang masjid tersebut tidak termasuk masjid Jami’ tapi juga kebangetan kayaknya, semenjak saya menjadi penghuni kost baru, saya lihat masjid tersebut masih setia dengan atap seng nya. Jadi ingat masjid di kampung halaman yang mengalami nasib serupa, bedanya rumah warga sana lebih bagus bahkan dari Masjidnya sendiri.

    Banyak hal menarik yang bisa dijumpai di Masjid dekat kost saya ini. Bisa kita jumpai diantara Jamaah masjid adalah Pemain bola atau barangkalai penggila bola. Buktinya gak hanya dilapangan, di masjid pun mereka setia memakai kostum sepak bola. Jadi tanda tanya juga sebenarnya, seandainya anda lagi mujur diundang Presiden berkunjung ke Istananya, kira-kira pakaian apa yang akan anda pakai? Pastinya dari sekian pakaian yang ada di lemari, anda akan memilih yang terbaik bukan. Hanya menemui seorang Presiden saja bela-belain memakai pakaian yang bagus kalau perlu beli di butik tidak menjadi persoalan. Lantas bagaimana jika kita menghadap Alloh SWT Yang Kerajaannya ada di Langit dan Bumi, masih beranikah memakai kaos oblong itupun dapatnya dari pilkada kemaren!

    Lambat laun masjid tampaknya tidak ada bedanya dengan “gereja”, bedanya gereja ramai ketika minggu pagi, maka masjid ramai saat jumaat siang. Hanya pas Hari Raya saja bisa dijumpai fenomena masjid bisa overload bahkan sampai meluber di jalan-jalan. Padahal sholat hari raya adalah sholat sunnah dibandingkan sholat wajib 5 x sehari. Jika tadi masjid tidak ubahnya seperti Stadion, masjid bisa berubah fungsi menjadi panti jompo. Bagaimana tidak, jamaah tetapnya adalah mbah-mbah dengan bau khas minyak anginnya. Datangnya paling awal dan pulangnya paling akhir. Tidak salah apabila Majelis Ulama pernah melansir pada penghujung November 2011 menunjukkan fakta mencengangkan. Dari 800 ribuan masjid di seluruh Indonesia, sebanyak 89,9 persennya sepi dari kegiatan keagamaan.

    Terlepas dari hal diatas, hanya di masjid lah mudah dijumpai wajah-wajah menentramkan. Orang-orang yang khusyuk dengan Qur’annya dan sibuk dengan tasbihnya. Masjid seolah tempat chatting seorang hamba dengan Kekasih Sejatinya. Bagiku masjid adalah ruang merenung, sesekali termenung. Di Masjid pula lah anda mendapat ilham judul skripsi. Mau! [dnk]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s