Utopis Kuadrat

     Setelah membaca beberapa artikel di buku “Ilusi Negara Demokrasi”, terpaksa saya harus menggigit lidah saya sendiri, terpaksa meralat teori saya sendiri. Di notes saya sebelumnya, “Utopis dan Faktor X” saya menjelaskan kalau Alloh SWT mengizinkan, di dunia ini tidak ada yang mustahil. Bukan hal yang mustahil nantinya Daulah Islamiyah akan tegak kembali. Bukan bermodal iman saja saya berkata demikian. Tapi umat islam mempunyai khazanah tersendiri tentang Daulah Islamiyah ini. Persyaratan untuk berdiri sebuah Daulah Islamiyah juga sudah ada mulai dari adanya wilayah yang berpotensi menjadi sebuah Daulah dan tentunya penduduk Daulah sendiri yaitu umat islam.

    “Lho gak adil dong, masak ente bilang di dunia ini gak ada yang mustahil. Negara demokrasi bukan hal mustahil juga kan?” Begini Om. Bukannya saya tidak bersikap tidak adil tapi mari kita telaah lebih jauh. Perumusan paling umum mengatakan demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggung jawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas. Ya intinya kedaulatan ada di tangan rakyat (manusia).

    “Nah bagus kan kalo kedaulatan di tangan rakyat, di negara demokrasi semua warga negara mendapat persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bro?” Nah justru disitu akar masalahya Om. Coba tengok negara penganut demokrasi, dalam praktiknya parlemen (atau DPR kita nyebutnya) sering dikuasai oleh segelintir elit politik, para pemilik modal atau malah keduanya sehingga suara mayoritas yang dihasilkan hanyalah mencerminkan suara mereka saja. Mau bukti? Coba liat lahirnya UU Migas, UU Listrik, UU SDA, UU Penanaman Modal, UU BHP, dan banyak lainnya jelas lebih berpihak kepada para pemilik modal dan merugikan rakyat yang mayoritas.

    “Itu kan demokrasi yang masih belum ideal aja Bro gak usah tensi kayak gitu dong!” Nah ini yang saya suka, demokrasi memang gak ada idealnya Om. Di Amerika sono calon presiden AS tidak bisa duduk di kursi kepresidenan tanpa direstui oleh Lobi Yahudi (AIPAC). Katanya demokrasi menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, yang telanjang dibolehi tapi muslimah yang memakai jilbab dilarang, itu kan MAHO namanya Om. Terus ada yang lebih lucu lagi ne Om! Demi demokratisasi, Amerika menyerang dan menduduki negara Irak dan Afganistan. Tapi justru cara-cara yang digunakan tidak demokratis wkwkwk..

    Makanya denga nulis notes ini saya Fadhoelor doenk Rohman yang Belum Berkeluarga, menarik lagi teori saya “Di dunia tidak ada yang mustahil” karena ternyata masih ada yang utopis, terbentuknya negara demokrasi. Saya juga mohon maaf atas sifat kemanusiaan saya yang sering khilaf dan seena’e dhewe, wajar kalau manusia tempat salah karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Akhirulkalam, tidak usah ketik reg da’i muda karena saya bukan da’i. Cukup dikasih cendol ane sudah seneng dan yang penting ampun jangan ditimpuk Om![]dnk

Catatan kaki:

Farid Wadji, dll. 2009. Ilusi Negara Demokrasi. Al Azhar Press: Bogor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s