Demokrasi Maho

     Di zaman milenium ini siapa yang tidak mengenal “demokrasi”. Tampaknya anda akan di panggil katrox atau kampungan kalau tidak mengenal demokrasi. Pasalnya demokrasi memang sudah diajarkan semenjak sekolah tingkat dasar. Nilai demokrasi yaitu dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, tentu mudah diterima tiap kalangan karena mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negaranya. Jadilah demokrasi dianggap puncak pencapaian ilmu, ideologi dan wisdom hasil karya umat manusia abad 20-21. Maka tidak lengkap rasanya pidato Pak Camat sampai Presiden kalau tidak menyinggung Demokrasi.

    Demokrasi dalam sejarahnya telah mengalami perjalanan panjang hingga sekarang ini. Dalam buku “Ilusi Negara Demokrasi” menjelaskan bahwa demokrasi berakar dari peradaban bangsa Yunani Kuno pada 500 SM. Cheleisthenes, tokoh pada waktu itu dianggap banyak memberikan kontribusi dalam pengembangan demokrasi. Magna Charta yang lahir pada 1215 dianggap jalan pembuka munculnya kembali demokrasi di barat. Demokrasi tumbuh begitu pesat ketika Eropa bangkit pada Abad Pencerahan. Pada masa itu, muncullah sejumlah pemikir yang mendukung berkembangnya demokrasi seperti John Locke dari Inggris (1632-1704) dan Montesquieu dari Prancis (1689-1755).

    Ide demokrasi terus mengalir hingga ke Timur Tengah pada pertengahan abad ke-19. Gagasan demokrasi itu dibawa ke negara-negara berpenduduk Muslim oleh para pemikir Islam yang mempelajari budaya Barat. salah satunya adalah Muhammad Abduh (1848-1905), yang menekannkan pentingnya umat Islam untuk mengadopsi hukum-hukum Barat secara selektif.

    Lantas apakah demokrasi telah memberikan kesejahteraan bagi umat manusia? Entahlah faktanya negara Barat yang mengadopsi sistem demokrasai, saat ini malah mengalami berbagai problematika. Bayangin saja negara-negara Eropa seperti Italia, Portugal hutangnya menyamai pendapatan negara tersebut. Di negara asal demokrasi, Yunani, juga mengalami krisis berkepanjangan. Sedangkan Amerika yang getol mengkampanyekan demokrasi, saat ini ditentang oleh rakyatnya sendiri dengan mengadakan gerakan Accupy Wall Street, kemudian diikuti oleh negara-negara lainnya.

    Terlepas yang disebutkan di atas, demokrasi telah menjadi barang kesukaan bagi para MAHO. Dengan demokrasi perkawinan antar jenis dapat dilegalkan, telanjang di tempat umum juga tidak menjadi persoalan. Jadilah yang menjadi garda terdepan para pejuang demokrasi adalah para MAHO tersebut. Lantas bagaimana dengan Anda, apakah anda ikut-ikutan MAHO?[]dnk

catatan kaki:

Farid Wadji, dll. 2009. Ilusi Negara Demokrasi. Al Azhar Press: Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s