Mati Ketawa Ala Madura

    Tidak mudah untuk mendapatkan karya sastra Madura, mulai dari bahasa atau penulisnya yang asli Madura. Buku koleksi saya yang berupa cerpen “Betty Ta Iye” malah ditulis oleh penulis Banjarmasin, Fauzan Muttaqien. Buku yang satunya cukup istimewa karena ditulis oleh Emha Ainun Nadjib atau dikenal dengan Cak Nun. Bagi yang dekat dengan dunia sastra tentu tidak asing dengan Cak Nun, seorang budayawan dan dikenal juga sebagai cendekiawan muslim. Orang yang kritis dan buku-bukunya sering membincangkan mengenai hidup dan kehidupan seperti dalam bukunya, Folklore Madura.

    Dalam bukunya tersebut, Cak Nun menyajikan kisah-kisah humor Madura. Tidak dipungkiri, Madura yang melekat dengan celurit dan carok! bangsa Madura juga mempunyai humor yang populer di seantero Nusantara. Humor yang berasal dari kehidupan sehari-hari masyarakat Madura dalam menyikapi realiatas secara sederhana. Bukan sekedar humor atau guyonan biasa menurut saya karena humor yang muncul merupakan pernyataan yang spontan keluar begitu saja. Artinya seluruh content pernyataan tersebut berasal dari isi hati dan pikirannya, tidak dibuat-dibuat. Sesuai dengan karakter orang Madura yang konon kalau menyatakan “Ya” berarti “Ya”, “Tidak” berarti “Tidak” sesuai dengan isi hati dan pikirannya. Berbeda dengan para politisi, “Ya” dan “Tidak” – nya politisi bergantung kepada apa yang ditargetkan.

    Jika carok disebabkan untuk membela kehormatan, nilai moral dan mempertahankan harga diri orang Madura yang tinggi, maka humor madura juga muncul untuk membentengi harga dirinya. Tidak percaya, simak kisah berikut.

Tidak kalah tenang adalah tukang-tukang becak Madura yang selalu legendaris. Lampu merah di perempatan jalan tak dipedulikannya. Ia menerobos saja sehingga kendaraan-kendaraan dari arah yang bersilang menjadi panik setengah mati. Sambil menginjak rem kencang-kencang, mereka memaki-maki: “Goblok! Goblok! Dasar tukang becak goblok! Sudah tahu lampu merah masih nyelonong saja! Goblok!”

    Tapi tokoh kita tidak terpengaruh sedikit pun. Sambil tetap nggenjot pedal becak pela-pelan, ia menjawab sambil tersenyum: ” Ya kalau ‘ndak goblok ‘ndak mbecak saya, Pak!”. []dnk

catatan kaki:

* Emha Ainun Nadjib. 2005 (cet. 2). Folklore Madura. Progress: Yogyakarta.

** Fauzan Muttaqien. 2004. Betty Ta Iye. Gema Insani: Jakarta.

2 thoughts on “Mati Ketawa Ala Madura

  1. Apa anda pernah mengenal Zawawi Imron?
    Beliau sastrawan madura, asli lahir dari madura, dan karya penuh tentang madura,
    puisi, banyak yg menceritakan ttg kehidupan madura.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s