Mati Ketawa Ala Madura (2)

    Coba simak salah-satu kisah dari Sampang, tentang pengendara sepeda motor yang marah-marah, ditilang polisi lalu-lintas gara-gara tidak memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi). Memang orang Madura ini menyodorkan SIM ke Polisi tersebut. “Ini bukan SIM saudara! Nama dan fotonya berbeda!” kata bapak polisi. Maka tersinggunglah si pengendara motor itu; “Lho Bapak ini kok aneh-aneh! Lha wong yang saya pinjemi SIM saja ‘dak marah kok malah Bapak yang marah!”.

    Kisah diatas merupakan penggalan kisah humor dari Madura yang saya ambil dari buku Folklore Madura karya Emha Ainun Nadjib atau dikenal Cak Nun. Sepintas memang orang Madura tersebut tampak lugu namun siapa sangka dibalik pernyataan tersebut terdapat perangkat logika yang luar biasa. Logika hukum menyatakan bahwa pengemudi sepeda motor yang tidak bisa menunjukkan SIM maka akan dipidana atau dikenai denda. Bukannya orang Madura tadi menunjukkan SIM meskipun foto dan namanya berbeda. Orang Madura itu juga tidak mencuri SIM orang lain, dia malah meminjam baik-baik kepada pemilik SIM. Jujur dan cerdas menurut saya karena orang Madura ini memanfaatkan ketidaklengkapan informasi yang diberikan Polisi. Mestinya informasi yang diberikan kurang lebih seperti ini, setiap pengendara motor wajib memiliki dan dapat menunjukkan SIM sesuai dengan nama, tanda tangan dan pas foto.

    Logika luar biasa juga di tunjukkan tukang becak legendaris. Kisah tukang becak Madura yang mengatakan, “Ya kalau ‘dak goblok ‘dak mbecak saya, Pak” (baca catatan 1). Logikanya kalau tukang becak itu pintar, mungkin dia tidak menjadi tukang becak tapi malah menjadi seorang Menteri bukan! Dan kalau dianalisis lebih tajam, pernyataan tersebut menjadi sindiran akan tidak meratanya ekonomi, kesempatan pendidikan dan peluang kerja. Sekali lagi tidak menutup kemungkinan kalau tukang becak tadi diberi jaminan pendidikan, bisa jadi dia menjadi bupati, gubernur, menteri atau lainnya. Memang dengan kompetensi yang dia punya, menjadi tukang becak tampaknya sudah pas. Tapi menjengkelkan bukan ketika seseorang yang cocoknya jadi tukang ojek, malah menjadi gubernur. Cocoknya tukang kayu malah menjadi anggota dewan terhormat yang kata-katanya sering melukai rakyat. Itulah lucunya sistem sosial kita tapi lebih lucu dan bego lagi kisah yang dialami teman saya, FR. Ketika dia ditilang di perempatan depan SMA 1 Sampang gara-gara tidak menyalakan lampu sepeda motor pada siang hari. Spontan dia menimpali, “Doh-adoh, ini kan masih pagi pak?”. []dnk

catatan kaki :

* Emha Ainun Nadjib. 2005 (cet. 2). Folklore
Madura. Progress: Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s