Generasi Pesakitan

Masih ingat catatan saya sebelumnya, demi suksesnya penyelenggaraan KMII Jawa Timur maka TV kontrakan di off kan tapi nyatanya setelah KMII pun TV tetap Off. Supaya tidak kuper dan uptodate, berita saya dapat lewat media cetak yaitu Koran. Tidak masalah dengan berlama-lama di warteg atau bela-belain cakruaan untuk sekedar membaca Koran. Koran favorit saya dan mungkin juga bagi warga kota mentropolis Sby adalah JP. Siapa yang tidak mengenal koran JP, koran local tapi skala nasional. Mantan ownernya sekarang juga menjabat menteri. Dari koran hari ini (tgl 1 Desember), saya ingat hari ini diperingati hari HIV/AIDS sedunia. Konon virus yang telah membunuh ribuan manusia ini sampai sekarang belum ada obatnya. Apa itu HIV/AIDS? Kalau ditanyakan kepada kakek atau orang tua kita mungkin mereka tidak mengerti apa itu AIDS, HIV, H5N1, dll. Paling mereka ngertinya penyakit masuk angin yang obatnya tinggal dikerok saja. Virus ini baru dikenal kadaluarsa belakangan ini. Memperingati hari AIDS ini di seluruh dunia dilakukan dengan berbagai macam kegiatan yang intinya sama yaitu mengingatkan tiap orang akan bahaya HIV/AIDS. Perbuatan yang terpuji bukan? Entahlah karena bagi saya ada yang mengganjal. Terlihat gambar di koran ada gadis cantik seksi pula, berpakaian minim membagikan pita merah. Saya rasa langsung atau tidak langsung gadis tadi mengundang tindak perzinahan (minimal zina mata). Padahal selain narkotika, tertularnya HIV/AIDS disebabkan karena seks bebas. Berita lainnya sebuah kota di Argentina, membuat kondom raksasa berwarna merah untuk menkampanyekan seks aman dengan kondom. Aneh karena berdasar artikel ilmiah yang saya baca, pori-pori kondom terlalu besar untuk sperma atau virus sehingga meski memakai kondom pun bisa terinfeksi..

Berita yang menyesakkan adalah terkait pengidap HIV/AIDS bukan hanya pemakai narkoba atau pelaku free seks. Tapi orang terdekat mereka juga bisa terinfeksi seperti istri dan anaknya. Akibat dari seorang suami yang pecandu narkotika atau pelaku seks bebas kemudian menularkan ke istrinya. Akhirnya lahir bayi pengidap HIV/AIDS. Seks bebas benar-benar merajalela belakangan ini buktinya sebanyak 51 dari 100 remaja perempuan di Jabodetabek sudah tidak perawan. Di Surabaya tercatat 54 persen, di Bandung 47 persen dan 52 persen di Medan (2010, BKKBN). Na’udubillahi mindzalik.

Generasi Pesakitan

Islam tidak mengenal istilah anak haram. Adanya aktivitas haram yang dilakukan orang tuanya (perzinahan diluar nikah). Semua bayi yang lahir adalah fitrah (suci). Tapi generasi pesakitan akan melahirkan generasi pesakitan pula, bayi-bayi yang lahir tidak berdosa tapi sudah terinfeksi HIV. Bagaimana mereka akan menjadi generasi berkualitas jika sejak dalam kandungan sudah digerogoti penyakit mematikan?

Tidak ada jalan lain kalau ingin menyelamatkan generasi pewaris peradaban selain dengan dihentikan atau setidaknya diminimalisir free seks ini. Lantas bagaimana cara menghentikannya? Menurut hemat saya, ditegakkan saja hukum setegak-tegaknya, jangan diberi ampun kepada pelaku seks bebas karena ini menyangkut generasi selanjutnya. Dan sebaik-baiknya pembuat hukum adalah Allah SWT. Bila pelaku zina belum menikah, hukum cambuk dan bila sudah menikah, dirajam. Setuju?[]dnk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s