Proker VS Banggar

Liburan awal semester, jam 12.30

Disaat mahasiswa lain menikmati liburannya, fai malah menjadwalkan hari bisa bertemu dengan dosennya. Wajar saat ini fai menjabat sebagai ketua kajian jurusan, tapi dasar mahasiswa lugu justru kedudukannya sebagai ketua, dia kan bisa menyuruh anggotanya. Ywd lah, fai akan mengajukan proposal kegiatan kepada dosen bagian kemahasiswaan (TKK) di jurusannya. Setelah mempertimbangkan masak-masak jadilah proposal goreng-nya (baca : fix). Anggaran yang diajukan juga sesuai dengan kebutuhan. Alhamdulilla dosen TKK nya juga ada dijurusan dan tanpa banyak basa-basi fai menyerahkan proposal kegiatan (maklum udah waktunya makan siang). Selembar dua lembar juga telah dilewati (ya iyalah itu kan bab pengesahan ama lembar kosong). Tiba-tiba raut muka dosen berubah dan mengambil pulpen untuk mencoreti proposal. Setelah puas corat-coret sana kemari, dosennya mulai berkomentar. “Baik saya sebagai dosen TKK pastinya mendukung kegiatan yg diajukan oleh mahasiswa dan pihak jurusan memang menyediakan anggaran untuk kegiatan mahasiswa apalagi ini kegiatan kerohanian islam, pasti saya mendukung”. “Siip alamat bakal diterima proposalnya”, batin fai. “Tapi anggaran kegiatan yang saudara ajukan cukup besar, nantinya berimbas pada kegiatan lain, saya takutnya kegiatan lain tidak kebagian dananya. Saya mengusulkan bagaimana kalau pembicaranya dari sini saja tidak perlu dari luar kota, saudara bisa minta ke depag wilayah sini. Tempatnya juga bisa pakai ruang kuliah tidak perlu meminjam ruang seminar kampus segala dan … serta beberapa usulannya lainnya. Intinya proposal ini perlu direvisi lagi (titik!)

Jam 13.33 di gedung perwakilan rakyat

Sebuah sedan mewah dan ber-plat merah baru saja melintasi jalanan ibu kota. Di dalam mobil yang ber-AC tersebut, Pambudi seorang pejabat baru daerah jauh-jauh datang ke jakarta untuk mengurusi keperluan rakyatnya. Beliau akan mengajukan anggaran daerah untuk pengembangan wilayahnya. Tentu dia berharap proposal anggarannya di terima mengingat wilayahnya termasuk  terbelakang (baca: pembangunan lambat). Sesampainya di ruang dewan terhormat, pambudi menyerahkan berkas-berkas proposalnya  dan menjelaskan panjang lebar ketertinggalannya wilayahnya, wilayahnya yang termasuk surga energi tapi lagi krisis energi. Dia meyakinkan pejabat didepannya yang sedang memperhatikan proposalnya bahwa anggaran yang dia ajukan sesuai dengan kebutuhan. Setelah melirik proposal pambudi, sang pejabat berkomentar. “Baik saya sebagai pejabat tinggi pemerintah pasti mendukung pembangunan di daerah dan pemerintah sendiri sudah menganggarkan dana untuk daerah tertinggal seperti daerah anda”.  Angin segar berhembus di telinga pambudi malah dia ditimpa topan ketika pejabatnya mengatakan proposalnya bisa  disetujui.”Saya pikir untuk wilayah terbelakang seperti wilayah anda, anggarannya ini masih terlalu kecil bagaimana kalau  dilipatkan. Dan atas jasa anda, gak usah khawatir anda nantinya dapat komisi 20%”. “Yang benar pak” ternyata  para pejabat itu baik hati ya, tidak seperti perkiraannya selama ini.

#dnk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s