GeoIslamic : One God But Different Eid?

contoh hilal

Tidak terasa bulan suci sudah dilewati, hari nan fitri pun juga dijalani beberapa hari yang lalu. Dan lebaran kemaren pun memberikan kesan tersendiri bagi saya. Jangankan hanya dalam lingkup luas yaitu umat islam yang ada di Indonesia yang berbeda dalam merayakan hari raya Idul Fitrih 1432 H, dalam rumah saya pun ada perbedaan dalam berhari raya. Tidak seperti tahun lalu yang alhamdulilla ham

pir tidak ada perbedaan dalam merayakan hari raya jadi mulai takbiran, berangkat sholat ied, ziarah dll bisa dilakukan bersama. Tapi no problem karena perbedaan lah yang membuat dunia ini lebih berwarna bukan.

Hmm tentu umat muslim termasuk saya sendiri pun penasaran dengan bagaimana sih proses penentuan 1 Syawal tersebut, apa faktor yang membuat umat muslim berbeda dalam  penentuan 1 Syawal? Baik tulisan ini akan coba memaparkan mengenai pertanyaan diatas yang saya himpun dari beberapa artikel terkait.

Untuk mengetahui mulai waktu berpuasa (tanggal 1 Ramadhan) dan berhari raya (tanggal 1 syawal) maka dilaksanakan sesuai hadist Nabi dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan banyak hadits lain telah menegaskan,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمْ الشَّهْرُ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian terhalang mendung, maka hitunglah tiga puluh hari (HR Muslim no.1810, dari Abu Hurairah ra.)

Hilal atau bulan baru sedangkan kalangan ahli mengartikannya sebagai penampakan bulan pertama ketika bulan baru sesaat setelah matahari terbenam. Jadi dalam penanggalan (kalender) islam perhitungan awal penanggalan bulan adalah terlihatnya hilal. Kalender islam disebut juga kalender Hijriyah karena kalender ini dimulai ketika Nabi Muhammad saw. berpindah ke Madinah (Hijrah). Kalender ini kemudian dipakai secara resmi dalam penentuan waktu-waktu ibadah umat islam seperti pelaksanaan puasa Ramadhan, ibadah Haji, peringatan hari-hari besar umat Islam, dll.

Kembali ke hadist diatas! sekilas hadis tersebut memberikan isyarat untuk mengobservasi/ mengamati atau melihat bulan setiap kali menentukan awal bulan baru, maka dari sini lah kemudian timbul berbagai macam metode pengamatan hilal untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriyah. Ada beberapa metode yang umum digunakan yaitu dengan Ru’yah dan Hisab.

1. Ru’yah

Ru’yah secara bahasa berarti melihat. Sedangkan secara termionolgis ru’yah berarti melihat hilal dengan mata pada saat matahari terbenam di barat pada tanggal 29 bulan Hijriyah. Saat ini metode ru’yah banyak terbantu dengan alat teropong sampai penggunaan theodolit. Untuk meminimalkan kesalahan hasil pengamatan maka dilakukan persiapan yang matang seperti pemilihan lokasi ru’yah yang strategis, pengamat-pengamat yang jujur dan menguasai cara-cara merukyat, prediksi arah dan tinggi bulan serta waktu pengamatan yang mendukung keberhasilan pengamatan dll.

Meskipun demikian masih akan dijumpai nantinya perbedaan untuk mengetahui awal bulan disebabkan oleh perbedaan faktor-faktor pendukung ru’yah mulai dari segi pemilihan lokasi baik geografis maupun strategisnya, pengaruh cuaca, penggunaan alat, pengamat rabun atau tidak, tidak ada pengganggu pandangan di arah hilal, keahlian dan kejujuran para pengamatnya dan banyak hal lainnya yang menyebabkan perbedaan hasil pengamatan hilal.

2. Hisab

Hisab dalam istilah penanggalan Hijriyah berarti metode penentuan penanggalan/awal bulan hijriyah dengan perhitungan astronomi. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini orang bisa melakukan hisab dengan akurasi tinggi.

Seperti halnya ru’yah, hisab pun terdapat perbedaan dalam hasil pengamatan hilal. Sampai saat ini terdapat beberapa macam metode hisab dan dari hasil-hasil perbandingan dari berbagai macam metode perhitungan astronomi tersebut terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya perbedaan dalam sudut elongasi, ketinggian bulan, sudut pencahayaan, umur bulan dari waktu ijtima’nya, dll.

FIQH, SCIENTIFIC DAN POLITIK

Ternyata pada satu metode pengamatan hilal baik pada ru’yah maupun hisab (bahkan dengan pendekatan science dan teknologi canggih pun) masih dijumpai perbedaan hasil pengamatan hilal. Lantas bagaimana penentuan awal bulan baru jika pelaksanaan pengamatan hilal yang berbeda! mengenai hal ini diperlukan turut campur pemerintah (politik). Karena pada dasarnya Pemerintah lah yang berhak menetapkan awal bulan kalender hijriyah. Jadi dengan campur tangan pemerintah apakah kaum muslim sudah bisa merayakan Idul Fitrih bersama? ternyata BELUM. Mungkin dalam satu negeri rakyatnya bisa merayakan bersama tapi bagaimana secara umat islam secara global. Kenyataannya kita jumpai negeri-negeri muslim berbeda dalam merayakan Idul Fitrih padahal negeri-negeri tersebut bertetangga (dan bukannya masih berada di bumi yang sama).

Menurut pendapat jumhur ulama, yakni dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah. tidak menganggap adanya perbedaan penentuan awal dan akhir puasa karena perbedaam mathla’ (tempat lahirnya bulan). Sayyid Sabiq menyatakan, “Menurut jumhur, tidak dianggap adanya perbedaan mathla’ (ikhtilâf al-mathâli’). Oleh karena itu kapan saja penduduk suatu negeri melihat hilal, maka wajib atas seluruh negeri berpuasa karena sabda Rasulullah saw, “Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” Seruan ini bersifat umum mencakup seluruh ummat. Jadi siapa saja di antara mereka yang melihat hilal; di tempat mana pun, maka ru’yah itu berlaku bagi mereka semuanya.”

Sayangnya masing-masing negeri muslim menetapkan sendiri-sendiri awal dan akhir Ramadhan berdasar hasil perhitungan atau rukyah yang didapat di wilayah negara itu. Bila di negeri itu tidak terlihat hilal, maka langsung digenapkan, tanpa menunggu terlebih dahulu hasil rukyat di negara muslim lain. Hasil keputusan tersebut lalu diumumkan di seluruh negeri masing-masing. Akibatnya, terjadilah perbedaan dalam mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan antara negeri-negeri muslim.

Menurut hemat saya, penentuan awal bulan kalender Hijriyah berkaitan erat dengan peredaran dan perputaran bumi, bulan, dan matahari. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan batas-batas negara yang bisa berubah-ubah. Pengamatan hilal seharusnya terintegrasi mulai  dari Papua sampai Maroko. Apabila tidak terlihat hilal maka istikmal (penyempurnaan) digenapkannya bulan menjadi 30 hari. Disitulah kemudian sekali lagi membuat saya takjub dengan keagungan Islam. Ditunjukkan dengan terintegrasinya science, fiqh dan politik secara indah dalam islam. Meskipun science tidak perlu pembenaran Quran untuk membuktikannya tapi pembuktian ilmiah (walau didapat secara sistematis pun) harus tunduk kepada syariat. Dan dengan politik, sinergi itu dapat dijaga. Memang sudah saatnya kaum muslim di seluruh dunia mempunyai kesatuan politik. One God, One Rosul, One Ummah, One Eid!

By : Fadhoelor “doenk” Rohman  (Mahasiswa Teknik Geomatika ITS)

Referensi:

Amhar, Fahmi. 2011. Simulasi Rukyat Global Apakah Mungkin Sholat Ied Di Hari Yang Sama. Bogor: BAKOSURTANAL

Khafid. 2005. Astronomi Salah Satu Solusi Penyatuan Kalender Islam. Bogor : BAKOSURTANAL

Normal
0

false
false
false

IN
JA
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”MS Mincho”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

1. Ru’yah

                Ru’yah secara bahasa berarti melihat. Sedangkan secara termionolgis ru’yah berarti melihat hilal dengan mata pada saat matahari terbenam di barat pada tanggal 29 bulan Hijriyah. Saat ini metode ru’yah banyak terbantu dengan alat teropong sampai penggunaan theodolit. Untuk meminimalkan kesalahan hasil pengamatan maka dilakukan persiapan yang matang seperti pemilihan lokasi ru’yah yang strategis, pengamat-pengamat yang jujur dan menguasai cara-cara merukyat, prediksi arah dan tinggi bulan serta waktu pengamatan yang mendukung keberhasilan pengamatan dll.

                Meskipun demikian masih akan dijumpai nantinya perbedaan untuk mengetahui awal bulan disebabkan oleh perbedaan faktor-faktor pendukung ru’yah mulai dari segi pemilihan lokasi baik geografis maupun strategisnya, pengaruh cuaca, penggunaan alat, pengamat rabun atau tidak, tidak ada pengganggu pandangan di arah hilal, keahlian dan kejujuran para pengamatnya dan banyak hal lainnya yang menyebabkan perbedaan hasil pengamatan hilal.

2. Hisab

                Hisab dalam istilah penanggalan Hijriyah berarti metode penentuan penanggalan/awal bulan hijriyah dengan perhitungan astronomi. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini orang bisa melakukan hisab dengan akurasi tinggi.

                Seperti halnya ru’yah, hisab pun terdapat perbedaan dalam hasil pengamatan hilal. Sampai saat ini terdapat beberapa macam metode hisab dan dari hasil-hasil perbandingan dari berbagai macam metode perhitungan astronomi tersebut terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya perbedaan dalam sudut elongasi, ketinggian bulan, sudut pencahayaan, umur bulan dari waktu ijtima’nya, dll.

FIQH, SCIENTIFIC DAN POLITIK

                Ternyata pada satu metode pengamatan hilal baik pada ru’yah maupun hisab (bahkan dengan pendekatan science dan teknologi canggih pun) masih dijumpai perbedaan hasil pengamatan hilal. Lantas bagaimana penentuan awal bulan baru jika pelaksanaan pengamatan hilal yang berbeda! mengenai hal ini diperlukan turut campur pemerintah (politik). Karena pada dasarnya Pemerintah lah yang berhak menetapkan awal bulan kalender hijriyah. Jadi dengan campur tangan pemerintah apakah kaum muslim sudah bisa merayakan Idul Fitrih bersama? ternyata BELUM. Mungkin dalam satu negeri rakyatnya bisa merayakan bersama tapi bagaimana secara umat islam secara global. Kenyataannya kita jumpai negeri-negeri muslim berbeda dalam merayakan Idul Fitrih padahal negeri-negeri tersebut bertetangga (dan bukannya masih berada di bumi yang sama).

                Menurut pendapat jumhur ulama, yakni dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah. tidak menganggap adanya perbedaan penentuan awal dan akhir puasa karena perbedaam mathla’ (tempat lahirnya bulan). Sayyid Sabiq menyatakan, “Menurut jumhur, tidak dianggap adanya perbedaan mathla’ (ikhtilâf al-mathâli’). Oleh karena itu kapan saja penduduk suatu negeri melihat hilal, maka wajib atas seluruh negeri berpuasa karena sabda Rasulullah saw, “Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” Seruan ini bersifat umum mencakup seluruh ummat. Jadi siapa saja di antara mereka yang melihat hilal; di tempat mana pun, maka ru’yah itu berlaku bagi mereka semuanya.”

                Sayangnya masing-masing negeri muslim menetapkan sendiri-sendiri awal dan akhir Ramadhan berdasar hasil perhitungan atau rukyah yang didapat di wilayah negara itu. Bila di negeri itu tidak terlihat hilal, maka langsung digenapkan, tanpa menunggu terlebih dahulu hasil rukyat di negara muslim lain. Hasil keputusan tersebut lalu diumumkan di seluruh negeri masing-masing. Akibatnya, terjadilah perbedaan dalam mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan antara negeri-negeri muslim.

                Menurut hemat saya, penentuan awal bulan kalender Hijriyah berkaitan erat dengan peredaran dan perputaran bumi, bulan, dan matahari. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan batas-batas negara yang bisa berubah-ubah. Pengamatan hilal seharusnya terintegrasi mulai  dari Papua sampai Maroko. Apabila tidak terlihat hilal maka istikmal (penyempurnaan) digenapkannya bulan menjadi 30 hari. Disitulah kemudian sekali lagi membuat saya takjub dengan keagungan Islam. Ditunjukkan dengan terintegrasinya science, fiqh dan politik secara indah dalam islam. Meskipun science tidak perlu pembenaran Quran untuk membuktikannya tapi pembuktian ilmiah (walau didapat secara sistematis pun) harus tunduk kepada syariat. Dan dengan politik, sinergi itu dapat dijaga. Memang sudah saatnya kaum muslim di seluruh dunia mempunyai kesatuan politik. One God, One Rosul, One Ummah, One Eid!

By : Fadhoelor “doenk” Rohman  (Mahasiswa Teknik Geomatika ITS)

Referensi:

Amhar, Fahmi. 2011. Simulasi Rukyat Global Apakah Mungkin Sholat Ied Di Hari Yang Sama. Bogor: BAKOSURTANAL

Khafid. 2005. Astronomi Salah Satu Solusi Penyatuan Kalender Islam. Bogor : BAKOSURTANAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s