Muslim Yang Terkotak-Kotak

23 April 2014 - 3 Responses

Saya bukan tipe orang yang suka terlibat diskusi. Kalau pun ada sebuah diskusi, saya lebih suka memperhatikan orang yang berdiskusi. Mendengarkan mereka adu argumen. Saling melemparkan logika-logika manis seperti kolak ubi. Analogi-analogi cantik secantik gadis Uzbekistan. Tapi tidak sampai beradu jotos seperti anggota dewan.

Melihat diskusi seperti itu otak saya ikut ‘mendidih’ karena memilah-milah pendapat mana yang kuat dan pendapat mana yang ngawur. Saya pikir itu bagus supaya otak kita tetap bekerja. Tetap berpikir. Kalau tidak, bisa-bisa anda termakan omongannya Aristoteles yang mengatakan “manusia adalah binatang yang berpikir”. Jika anda tidak berpikir, maka anda tinggal binatangnya!

Lha bagaimana jika saya yang terlibat diskusi? No Problem. It’s Okay! Terakhir saya terlibat diskusi dengan seorang wanita yang sedang mengambil magister psikologi di kota Gudeg. Diskusi yang saling memberi komentar pada tulisan saya ini tentang apakah Islam mengkotak-kotakkan muslim? Sebuah diskusi yang menarik!

Berawal dari pembahasan mengenai takmir masjid yang melarang menyebarkan buletin Al Islam karena sebelumnya tidak meminta izin. Memang secara etika, semestinya minta izin terlebih dahulu. Menjadi persoalan kemudian, mengapa setelah minta izin takmir masjid tetap tidak memperbolehkan? Diperparah dengan tidak memberikan alasannya.

Saya beranggapan tidak dapat izin menyebar buletin disebabkan buletin tersebut berasal dari luar ‘kelompok’ masjid. Ya meski masjid milik umat, tapi umumnya masjid itu terbagi antara ‘milik’ NU atau Muhammadiyah. Kebetulan buletin Al Islam tidak berasal dari dua ormas terbesar tersebut.

Menurut mbak magister, wajar jika takmir masjid melarang. Mirip seperti, apa mau masjid Sunni dimasuki buletin Syiah? Enggak kan?
Read the rest of this entry »

Baca Buletin Al Islam Aja Phobia

22 April 2014 - 21 Responses

Aktivitas hari jumat itu biasanya tidak lepas dari mandi, memotong kuku dan tentu saja shalat jumat (bagi laki-laki). Kalau boleh menambahkan, tidak ketinggalan membaca buletin Al Islam yang memang biasa ditemui pas hari jumat dan tersebar di beberapa masjid.

Pertama kali bersentuhan dengan buletin Al Islam ketika saya masih bangku SMA. Buletin yang berwarna biru tersebut sengaja dibiarkan tergeletak di sudut-sudut teras masjid barangkali supaya jamaah bisa dengan mudah mengambilnya, termasuk saya. Cuman dalam buletin itu sendiri ada peringatan, “jangan dibaca ketika khutbah jumat berlangsung”, maka minggu-minggu berikutnya saya mengambil buletin Al Islam seusai shalat jumat. Anda tahu, jika mengambil Al Islam seusai shalat, saya tidak kebagian. Ya akhirnya saya ambil duluan, dilipat, dimasukkan dalam baju koko, kemudian dibaca kalau sudah sampai rumah. Hukum rimba berlangku dalam hal ini, siapa cepat dia dapat!

Abah saya, yang lulusan pesantren itu, tidak pernah melarang saya mengambil dan membaca buletin tersebut. Mungkin dalam pikiran beliau, “baguslah daripada bacaannya komik terus.” Dalam buletin Al Islam juga ada peringatan, “jangan diletakkan sembarang karena terdapat ayat suci Al Qur’an”. Karena itu setelah membacanya tidak kemudian saya buang, selesai baca saya simpan di laci kamar. Sampai saat ini kalau pulang kampung ke rumah, buletin-buletin lama itu masih ‘tersimpan’ dengan baik. Ya saya takut kualat jika membuang lembaran yang berisi ayat-ayat suci Al Quran, barangkali dengan menyimpannya bisa menjadi semacam jimat (karena ada ayatnya itu).

Selepas SMA saya melanjutkan studi (baca : kuliah) ke tempat yang jauuhh dari rumah. Jaraknya ratusan kilometer dari rumah, dan perlu menyabrangi lautan untuk sampai ke kota Surabaya (dari madura ke surabaya). Siapa nyana di tempat ini saya berjumpa lagi dengan buletin Al Islam. Sehabis shalat jumat biasanya nganggur, hanya tidur-tiduran di serambi masjid, yah tidak ada salahnya menyempatkan membaca buletin Al Islam.

Jika dicermati, buletin Al Islam itu mempunyai struktur pembangunnya. Mirip sebenarnya dengan sebuah makalah dimana kerangkanya paling tidak ada pendahuluan, pembahasan dan penyelesain. Begitu pula buletin Al Islam, hanya saja lebih simpel.
Read the rest of this entry »

Gelembung Suara

20 April 2014 - Leave a Response

Angka pertemanan saya di facebook, sudah mencapai sekitar 1000 orang lebih. Tidak jauh beda dengan follower saya di twitter yang sekitaran angka 1000. Kebetulan saya pengguna dua social media populer tersebut.

Jujur saja di dunia nyata, saya tidak yakin apakah pertemanan saya sudah sebanyak seperti yang ada di dunia maya. Rasa-rasanya saya berteman tidak sebanyak layaknya pertemanan di dunia maya.

Bagaimana saya mendapat teman maya sebanyak itu? Entahlah seingat saya, sebagian dari mereka add pertemanan kepada saya, saya tidak begitu mengenal mereka tapi apa salahnya saya menerima request pertemanan tersebut. Hal yang sama terjadi pada twitter, mereka follow saya maka saya follow balik.

Kenapa mereka meng-add saya? Saya pikir, karena mereka mengenal saya tergabung pada komunitas atau minat yang sama. Jika melihat teman dunia maya saya, setidaknya mereka masuk dalam kelompok yang ada hubungan keluarga dengan saya (jumlahnya kecil), teman sekolah (baik itu SD, SMP, SMA, entah itu pernah sekelas atau cuman karena pernah satu sekolah, maupun teman se-kampus), komunitas yang saya ikuti (misal puisi, komunitas rindu syariah dan khilafah, serta penikmat buku), terakhir kelompok yang sama sekali tidak teridentifikasi (biasanya adalah para pedagang online, yang ingin mempromosikan dagangannnya dan tentu pertemanan mereka tidak saya approve).

Sebenarnya hal sama juga saya lakukan, meng-add orang yang tidak saya kenal. Mengapa saya melakukannya? Pertama karena kami memiliki minat atau pemikiran yang sama, dan yang penting saya kira status yang dia tulis sangat menarik untuk diikuti.

Titik point yang ingin saya sampaikan adalah pertemanan saya di dunia maya itu tidak benar-benar riil alias tidak menunjukkan realitas pertemanan sebenarnya selayaknya yang terjadi di dunia nyata (ya namanya saja dunia maya).

Hanya saja prinsip ini, tidak riil-nya suatu hubungan pertemanan, mirip dengan apa yang terjadi pada pemilu. Pemenang pemilu adalah orang atau partai yang paling banyak pendukungnya, paling banyak suaranya, atau dengan kata lain paling banyak di coblos. Katakanlah sebuah partai mendapat satu juta suara. Pertanyaannya, riilkah partai tersebut mendapat satu juta suara?
Read the rest of this entry »

Potong Kupingmu!

18 April 2014 - 4 Responses

Ketika medengarkan khutbah jumat, mas yang berada di shaf depan saya agak ke pinggir, saya lihat daun telinganya tidak ada! Ada seperti luka bakar di sekitar area pipinya. Entahlah bukan cacat bawaan tapi saya rasa mas tersebut pernah mengalami kecelakaan.

Melihat mas nya, saya merasa bersyukur badan saya tidak kenapa-kenapa, lubang hidung masih ada dua, daun telinga saya pun lengkap. Kecuali dulu waktu kecil, telinga kanan saya pernah di operasi untuk memotong bintil yang ada di luar telinga kanan saya. Adanya bintil secuil itu sudah membuat saya sepertinya menjadi anak paling aneh, bagaimana jika saya tidak punya daun telinga, mungkin saya bakal mirip alien yang tidak punya daun telinga.
Read the rest of this entry »

Mendekat Kepada-Nya Dengan Motor Balap

17 April 2014 - 4 Responses

Ketika dalam perjalanan pulang, ada motor yang menyalip saya. Bukan sembarang motor, tapi motor yang hampir dimimpikan oleh sebagian besar lelaki yaitu motor Kawasaki Ninja. Ok lebay, tapi siapa yang tidak ingin mengendarai motor racing!


Saya tidak munafik, dalam hati yang terdalam saya juga ingin. Bahkan saya sempat berdoa, semoga kelak saya bisa mengendarainya dan tentu bukan hasil meminjam apalagi nyolong tapi mengendarai motor racing saya sendiri. Aamiin.

Apakah doa saya akan terkabulkan? In sha Allah, saya harus yakin. Dalam titik ini saya menyadari bahwa saya minta motor racing atau yang lebih mahal daripada itu, merupakan hal yang kecil bagi Allah SWT. Kalau Allah mau, apa yang saya minta bisa dikabulkan olehNya karena Dia lah yang Maha Memberi lagi Maha Mengabulkan. Cuman, pertanyaannya apakah saya pantas menerima motor racing?
Read the rest of this entry »