Seberapa Hafal Al Qur’an ?

16 December 2014 - 9 Responses

Tidak sengaja ketika berselancar di toko online, saya lihat ada yang menjual Al Qur’an hafalan. Saya tahu sebelumnya kalau ada Al Qur’an khusus untuk hafalan, tapi baru lihat fisiknya di toko online itu.

Perbedaan antara Al Qur’an hafalan dengan Al Qur’an umumnya, Al Qur’an hafalan mempunyai penanda awal ayat di pinggir halaman, sebagai sarana pengingat hafalan. Proses menghafal dibantu panel navigasi kata atau kalimat pertama setiap ayat yang terdapat di sisi kanan dan kiri setiap halaman. Ketika mulai menghafal, Anda cukup menutup bagian ayat utama dan fokus pada panel navigasi hafalan di sisi kanan dan kiri halaman. Saya tertarik dan langsung membelinya. Lagipula sedang ada diskon!

Tampak Dalam

Di awal tahun 2013 ini saya mempunyai resolusi untuk menghafal Al Qur’an, one day one ayat (ODOA). Dimulai dengan menghafal juz amma. Hasilnya? Jangam berbicara hasil, karena hasilnya tidak seperti yang saya inginkan. Dalam satu tahun ini, satu juz saja (juz amma) tidak saya hafal.

Saya kira ODOA itu hal yang mudah. Anda cukup menghafal dalam satu hari satu ayat. Mudah bukan! Cuman masalahnya ayat yang Anda hafal sebelumnya harus di ulang-ulang lagi, dihafal-hafal lagi supaya hafalan Anda tidak hilang. Program ODOA itu sebenarnya tidak ODOA.

Nah, harapan saya dengan membeli Al Qur’an hafalan itu, bisa membakar semangat saya lagi untuk menghafal Al Qur’an. Yeah!

Menjadi penghafal Al Qur’an, Anda tahu, sebuah mimpi yang ingin saya realisasikan sebelum saya masuk liat lahad. Hal lainnya yang ingin saya lakukan sebelum meninggal, misal menulis buku, meraih gelar doktor, pergi ke masjid Al Aqsa Plestina, hafal Al Qur’an, dan masih banyak lagi. Tapi kalau dikerucutkan menjadi satu, saya ingin hafal Al Qur’an. Atau setidak-tidaknya mati ketika proses menghafal Al Qur’an.

Sebenarnya saya tidak yakin dengan itu, hafal Al Qur’an, butuh keistiqomahan besar. Tapi saya harus melakukannya bukan. Lagipula Al Qur’an merupakan kitab yang paling ‘mudah’ untuk dihafal. Tidak sedikit anak-anak usia 4-5 tahun mampu menghafalnya. Saya yang berumur 17 tahun lebih ini masa tidak bisa? []

Lupa Geodesi ?

11 December 2014 - 3 Responses

Beberapa minggu lalu di sebuah acara yang di create alumni Geomatika, saya bertemu dengan salah satu dosen pengajar waktu kuliah. Beliau seorang profesor dalam bidang penginderaan jauh. Tidak banyak yang kami obrolkan, tepatnya kami hanya salaman dan setelah beliau tahu pekerjaanku, beliau berpesan, “Jadilah pengajar! Universitas Teknik Madura sedang buka jurusan pertambangan. Saudara bisa ngajar disana.” Saya katakan ke beliau bahwa saya tidak cocok jadi pengajar. “Ini bukan masalah cocok tidak cocok,” kata beliau, “tapi supaya ilmu Geodesi Saudara tidak hilang!”

Harus saya akui mulai lupa konsep Geodesi. Jika ditanya apa itu elipsoid, geoid, azimut, sudut nadir, KKH, KKV, elevasi, parameter, atau datum geodetik, saya perlu buka-buka diktat kuliah lagi untuk menjawabnya, atau setidaknya searching di google.

Pekerjaan saya saat ini di bidang pemetaaan. Masih berkaitan dengan Geodesi yang berbicara tentang spasial (keruangan). Cuman, entah beruntung atau apes, pekerjaan saya lebih bersifat administratif (mengurusi berkas-berkas), bukan teknis (pengukuran di lapangan).

Saya kira masalah serupa, lupa pelajaran kuliah, dialami pula oleh pegawai lainnya. Ada yang lulusan arsitek, dan saya yakin sense arsiteknya sudah memudar kalau tidak mau dikatakan menghilang. Ya karena itu tadi, tidak dilatih.

Saya tinggal menunggu waktu saja sense Geodesi saya menghilang. Beruntung hari ini saya berjumpa dengan senior satu almamater. Beliau angkatan 2000, beda 8 tahun dengan saya. Sebelumnya saya berjumpa dengannya ketika acara alumni. Tidak rugi saya datang waktu itu karena relasi saya bertambah. Pekerjaannya seorang konsultan dan sedang mengerjakan proyek peta garis pantai timur Surabaya.

Obrolan saya dengan senior ini yang membuat saya berpikir keras. Kata-kata teknis Geodesi seperti MLS, garis khayal, elevasi, berapa kali terlontar dan saya lupa-lupa ingat kata-kata itu. Bahkan mas nya ini berkomentar, “Si A bodoh. Masak dia orang Geodesi, tapi pertanyaannya seperti orang yang tidak paham Geodesi saja.” Saya tidak tahu persis bagaimana pertanyaannya, saya coba membela si A karena si A ini mbak senior, “Maklum mas, wong sehari-hari ngurus berkas.. lupa Geodesinya.”

Realitasnya pekerjaan kita tidak selalu sesuai dengan bidang kita saat kuliah, tapi bukan menjadi alasan untuk melupakan background sarjana kita. Kurang lebih 4 tahun kita ditempa supaya berpola pikir seorang geodet, arsitek, kimiawan, atau bidang lainnya. Pola pikir itu yang membuat kita ‘unik’. Berpikir dan memecahkan sebuah masalah dengan sudut pandang keilmuan yang kita kuasai itu.

Bagaimana cara supaya ilmu kita tidak hilang? Tidak ada cara lain kecuali dengan melatihnya, mendiskusikannya, atau seperti kata profesor saya itu, mengajarkannya. Mengenai mengapa saya mulai lupa konsep Geodesi, entah itu karena saya yang memang pelupa atau dulu saya belajar apa kog saat ini tidak membekas? []

Ibumu Ibumu Ibumu

25 November 2014 - Leave a Response

Pesan mengagetkan mucul ketika saya menarik uang tunai di ATM. Di layar mesin ATM tertulis, “Maaf kartu Anda habis masa berlaku.” Dicoba di mesin ATM sebelahnya, sama saja. Saya baru tahu, kartu ATM mempunyai masa expired. Mau tidak mau saya harus mengurusnya di bank BNI Syariah terdekat.

Ketika ke Customer Service (CS) bank. Mbak CS bertanya nama ibu saya. Saya jawab, “Hj. Mahmudah”. Pertanyaan itu sepertinya lumrah ditanyakan oleh pihak bank sebagai verifikasi bahwa saya sebagai pemilik akun. Seingat saya, saya pernah ditanyakan pertanyaan yang serupa.

Rasanya sudah lama saya tidak menyebut nama ibu saya itu. Memang benar sehabis shalat, saya biasa mendoakan kedua orang tua saya. Tapi itu pun saya menyebutnya dengan ‘Aba’ dan ‘Ummi’, satu misal dalam doa saya, “Ya Rabb kasihi Aba saya, Ummi saya..”

Saya kira saya tidak perlu menyebut nama lansung. Allah SWT Maha Mengetahui, kepada siapa doa saya dipanjatkan. Tapi selepas kejadian dengan CS bank itu, saya pikir tidak ada salahnya menyebut nama kedua orang tua saya.

Teringat sebuah hadist, diceritakan datang seseorang kepada Rasulullah SAW. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ? Nabi SAW. menjawab, ‘Ibumu! Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ? Nabi SAW. menjawab, ‘Ibumu! Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW. menjawab, ‘Ibumu!, Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi SAW. Menjawab, Bapakmu.”

Saya kira aplikasi dari hadist tersebut, kita harus 3x lipat berbakti kepada ibu. Dalam doa, ibu kita 3x lipat disebut daripada bapak. Menelepon ibu 3x lipat daripada bapak, hal yang saya akui sangat jarang saya lakukan.

Di telpon saya lebih sering mengobrol dengan Aba ketimbang Ummi. Dulu ketika musim kampanye capres, kami banyak mengobrol tentang kedua calon capres dan Aba saya berulang kali menyebut alasan beliau mendukung pak Jokowi. Semenjak adanya kebijakan menaikkan harga BBM, Aba saya tidak menyebut nama Jokowi lagi. Sedangkan dengan Ummi paling sekedar nanya kabar, atau bertanya sudah makan? Itu saja!

Mengaplikasikan hadist di atas tidak lah mudah, mungkin itu yang menyebabkan surga ada di bawah telapak kaki ibu. Saking susahnya seseorang anak untuk berbakti kepada ibunya.

Kartu ATM saya sudah tidak ada masalah. Masalahnya kini, supaya disebut anak berbakti, apa saya harus transfer 3x ke Ummi! []

Salahkan Golput?

24 November 2014 - 2 Responses

Seorang teman di sosmed menulis status, “Pemilu kemarin tidak mau nyoblos. Sekarang meneriaki Presiden. Ingat, golputers punya andil besar memenangkan Jokowi.”

Terus terang pemilu kemarin saya termasuk golput. Golput bisa saja berperan dalam kemenangan Jokowi, seperti kata teman saya itu, tapi bisa juga memenangkan pak Prabowo bukan?

Ada banyak sebab mengapa orang memilih golput. Menurut saya dapat dikelompokkan 3 faktor, karena terpaksa, apatis, dan pemikiran. Terpaksa memilih golput, itu bisa disebabkan banyak hal mulai dari sakit ketika pencoblosan, tidak punya kendaraan ke TPS, tidak menerima undangan, sedang berada di luar kota, atau alasan teknis lainnya sehingga ia tidak bisa memilih.

Alasan berikutnya yaitu orang-orang yang apatis. Mereka tidak mau tahu dan tidak peduli terhadap pemilu. Siapa presidennya, mereka pun tidak mau ambil pusing.

Terakhir, golput karena hasil dari pemikirannya. Setelah mengamati realitas yang ada, mereka menarik kesimpulan untuk memilih menjadi golput dan konsisten dengan apa yang mereka yakini itu. Misal argumen yang menyebabkan ia golput, calon presiden selama ini bukanlah pilihan rakyat tapi dipilihkan oleh partai. Sistem pemilu memberlakukan pukul rata, tidak ada beda antara suara penjahat dengan seorang ulama yang memberi suara. Atau argumen, memilih wakil rakyat untuk menjalankan hukum buatan manusia itu bertentangan dengan akidah yang ia yakini, inil hukmu illa lillah, hak prerogatif membuat hukum hanya milik Allah SWT. Dan argumen-argumen lainnya.

Pada pemilu 2014 jumlah pemilih 190 juta dengan angka partisipasi: 72,18%. Hasil rekapitulasi KPU menetapkan pasangan Jokowi-JK memperoleh 53,15% dan Prabowo-Hatta 46,85%. Dilihat dari grafik, meski presiden terpilih adalah Jokowi, tapi kekuatan Jokowi untuk memerintah negeri ini hanya 1/3 saja. Sisanya dibagi rata dengan pendukung Prabowo dan pemilih golput. Tidak menutup kemungkinan pemilih golput akan beralih mendukung Jokowi, tapi melihat kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM hanya membuat mereka antipati. Di dalam pemilih golput sendiri, tidak ada data pasti berapa persen golput yang tergolong terpaksa, apatis, atau karena pemikirannya. Mereka yang memilih golput karena pemikirannya, saya yakin, jumlahnya tidaklah sebanyak 2 faktor tadi.

Kalau memakai logika teman saya itu, dia semestinya berpikir ulang. Kenaikan BBM merupakan kebijakan neo liberal. Ciri neo liberal, anda tahu, meniadakan subsidi termasuk subsidi BBM. Ketika dia ikut aktif dalam pemilu berarti dia ikut mengokohkan demokrasi, sekaligus ikut andil diterapkannya sistem ekonomi neoliberal, sistem ekonomi yang hanya kompatibel dengan sistem demokrasi! []

*sumber grafik dari Farid Gaban

Berhemat Dengan BBM

22 November 2014 - 2 Responses

Berapa uang yang Anda keluarkan ketika membeli bensin di SPBU? Kalau saya biasanya Rp15.000, baik itu sebelum atau setelah BBM naik. Bedanya, dulu saya memperoleh 2 literan-an bensin habis dalam 3 hari. Sekarang dengan naiknya BBM saya hanya memperoleh 1,7 liter.

Saya termasuk pengguna BBM untuk ‘dibakar’. Saya menggunakannya bolak balik dari kontrakan ke tempat kerja, begitu tiap harinya. Saya katakan untuk dibakar, ternyata saya baru tahu, katanya, ada BBM yang digunakan untuk ‘senang-senang’. Contoh misal, BBM yang digunakan oleh pasangan muda mudi untuk pacaran, keluyuran keliling kota pamer kemesraan yang boncengangannya menempel seperti perangko. Ya walaupun digunakan untuk hal yang tidak produktif, pada dasarnya tetap saja BBM dibakar.

Naiknya harga BBM, membuat orang memutar otak melakukan penghematan. Ada yang mengurangi shopping, membawa bekal dari rumah ketimbang makan di warung, atau mungkin berhenti merokok. Bagaimana dengan saya? Hal yang terpikirkan oleh saya adalah beralih transportasi dari sepeda motor ke sepeda pancal. Tapi ide ini akan sulit saya realisasikan mengingat saya harus berangkat kerja sekitar jam 6 pagi. Padahal pada jam itu saya masih sibuk dengan urusan mandi, nyeduh kopi, beli sarapan, baca berita olahraga, atau aktivitas pribadi lainnya.

Naik sepeda pancal bukan hal baru bagi saya. 10 tahun saya tercatat sebagai pengguna sepeda pancal dari rumah ke sekolah. Jaraknya 10 km dan memakan waktu sekitar 30 menit. Bersepeda di desa saya suatu hal yang menyenangkan, kiri kanan jalan yang Anda lihat pematang sawah yang memanjakan mata dan menyegarkan rongga dada. Beda kalau saya naik sepeda pancal di kota besar seperti Surabaya ini, Anda harus bersahabat dengan asap motor.

Ide lainnya, saya naik angkutan umum. Tapi ide ini pun susah saya realisasikan. Kebiasaan ngetem angkot hanya akan membuat saya terlambat kerja. Belum lagi saya perlu 2 kali naik angkot. Tidak efektif dan efisien. Karena itu barangkali orang-orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada menggunakan jasa transportasi massal. Efeknya, tentu kebutuhan BBM akan turut membengkak.

Alasan pemerintah mengurangi subsidi BBM untuk mengalihkan pada sektor infrastruktur termasuk pembangunan transportasi massal. Justru alasan ini menurut saya tidak masuk akal. Sama tidak masuk akalnya seperti wanita yang memilih menjadi (maaf) pelacur karena merasa yang mampu ia kerjakan hanya melacur. Padahal ia punya tangan untuk bekerja, tapi baginya satu-satunya alat yang bisa digunakan untuk bekerja hanyalah yang dibawah perut.

Membangun infrastruktur tidak harus mengurangi anggaran subsisi BBM. Cara lain, memotong anggaran belanja aparatur negara termasuk di dalamnya kunjungan kerja (kunker) DPR ke luar negeri yang mencapai Rp140 miliar. Atau, cara yang radikal tapi tak apa demi kepentingan rakyat, memutus kontrak kerja dengan Freeport yang tiap tahunnya berpenghasilan Rp70 triliun. Itu pun kalau pemerintah punya nyali melakukannya. Anda tahu, kacung tidak akan berani menentang majikannya bukan!

Mau tidak mau dengan naiknya harga BBM saya harus berhemat. Apalagi belum ada tanda-tanda gaji akan ikut naik. Lalu bagaimana caranya 1,7 liter bensin bisa cukup untuk 3 hari? Oh, saya bisa mencari boncengan. []