Is This For Real?

26 September 2014 - 5 Responses

peta:

benarkah ttg kabar pemilik dailynomous.wordpress.com ini..
*semoga saya bisa mengikutimu sbg syuhada.

Originally posted on araaminoe:

Pagi pagi asmie dikejutkan email dibawah ini…

me copy

Ada yang jadi follower-nya dailynomous.wordpress.com ?

Klo ada, sudah ada yang dapat email seperti diatas?

Asmie adalah salah satu follower sejati blog dailynomous.wordpress.com , sungguh terkejut dengan isi di dalamnya yang menyatakan bahwa Zy sang pemilik blog tersebut sudah wafat sebagai syuhada di Syria. Dan yang email tersebut dibuat berdasarkan wasiat dari Zy.

Sungguh sedih hati asmie, Zy adalah salah satu blogger favorite asmie, asmie memang tidak memahami sepenuhnya tiap tiap postingan yang ia buat, tapi entah mengapa membaca postingannya banyak membuat asmie merenung dan merasa teduh. Tidak perduli apapun yang ia tulis. Bagian favorite asmie adalah ketika ia bercerita tentang “Elota” yang asmie asumsikan sebagai someone spesial-nya Zy. Dan bahkan asmie pernah copas postingan Zy tanpa seijinnya, tapi asmie lega ketika Zy pun ng – like disana.

Dear Zy,

Jika yang tertulis di email diatas adalah benar, dan bahwa engkau telah…

View original 44 more words

25 September 2014 - 11 Responses

malam ini mataku sulit terpejam kawan melihat bayang ketidakpedulian

hinggapkah kesadaran di tiap hembusan nafas ada pertanggungjawaban

tidakkah kita berpikir maut yang sewaktu-waktu datang menjemput

benamkan diri bahwa ada perhitungan bahwa akan ditanyakan, lantas mau jawab apa kita?

4×6 atau 6×4?

24 September 2014 - 7 Responses

Apabila ditanya mata pelajaran apa yang saya senangi? Saya akan menjawab, Matematika. Mata pelajaran yang mungkin bagi sebagian besar orang menjadi momok menakutkan. Justru bagi saya Matematika adalah mata pelajaran yang menyenangkan, buktinya nilai Matematika saya mulai sekolah sampai kuliah tidak jelek-jelek amat. Waktu kuliah, Matematika Geodesi saya mendapat nilai B. Barangkali karena kedua orang tua saya adalah seorang pedagang maka DNA hitung-hitungan sudah kental dalam diri saya.

Berhubung mata pelajaran yang lain misal Kimia, Fisika, dan Bahasa Inggris saya tidak ada apa-apanya, maka ketika pelajaran Matematika lah saya bisa menunjukkan eksistensi diri. Tiap guru mengajukan soal, saya coba unjuk tangan menawarkan diri untuk mengerjakan tapi guru saya menolak dan mengatakan, “Yang lainnya!”

Kesukaan saya terhadap Matematika mungkin tidak lepas dari peran guru SD saya, Pak Zinul. Beliau guru yang baik dan baru pindah ke sekolah kami. Dari beliaulah saya mengetahui bahwa Matematika itu menyenangkan.

Ketika kelas 6 SD, materi Matematika sampai pada pembahasan Luas dan Keliling suatu bidang. Sepertinya materi ini akan menjadi materi yang sulit. Tapi Pak Zinul menjelaskannya dengan mudah. Beliau menjelaskan konsep rumus Luas Persegi yaitu panjang (p) x lebar (l), dan sesekali bercerita tentang kaitannya materi yang sedang kami bahas dengan kehidupan sehari-hari. Misal kami bisa menerapkan konsep Matematika untuk mengetahui luasan layang-layang. Ilmu yang dimanfaatkan buat pamer kepada teman-teman seper-layangan.

Baru-baru ini ramai berita soal Matematika kelas 2 SD. Diberitakan seorang kakak protes kepada guru Matematika adiknya karena adiknya mendapat nilai 20. “Biasanya murid yang melakukan kesalahan, tapi kali ini saya merasa bahwa guru adik saya lah yang melakukan kesalahan,” tulis sang kakak dalam akun sosial media miliknya. Menurut sang kakak tidak ada bedanya antara 4×6 dan 6×4, toh hasilnya pun sama 24. Tapi justru yang membuat adiknya disalahkan adalah karena posisi angka 4 dan 6 terbalik.


Mana yang benar, 4×6 atau 6×4? Saya pikir penjelasan Prof Thomas Djamaluddin—Kepala LAPAN—ini sudah cukup menjelaskan, “Meski 4 x 6 dan 6 x 4 hasilnya sama 24, tetapi logikanya berbeda. Itu adalah model matematis yang kasusnya berbeda. Konsekuensinya bisa berbeda juga. Misalnya, Ahmad dan Ali harus memindahkan bata yang jumlahnya sama, 24. Karena Ahmad lebih kuat, ia membawa 6 bata sebanyak 4 kali, secara matematis ditulis 4 x 6. Tetapi Ali yang badannya lebih kecil, hanya mampu membawa 4 bata sebanyak 6 kali, model matematisnya 6 x 4. Jadi, 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 6 x 4, berbeda konsepnya dengan 6 + 6 + 6 + 6 = 4 x 6, walau hasilnya sama 24.”

Saya bisa memaklumi sang kakak yang menyalahkan guru Matematika adiknya karena menurut sang kakak, tidak ada beda antara 6×4 atau 4×6, toh hasilnya pun sama. Tidak dipungkiri kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang cenderung berorientasi pada hasil. Bahkan banyak orang memperoleh hasil dengan menghalalkan segala cara. Mempunyai uang banyak tapi hasil korupsi. Mempunyai jabatan tinggi tapi hasil dari menyogok atau membeli suara, dan banyak lainnya. Bedanya dengan sang kakak, dia masih mau mengajarkan adiknya. Kalau ia mau bisa saja ia menyuruh adiknya menggunakan ‘jalan pintas’ yaitu menggunakan kalkulator untuk mengerjakan tugasnya.

Berita soal Matematika kelas 2 SD ini mengingatkan saya pada sosok Pak Zinul. Sosok yang saya rindukan cerita-ceritanya. Pak Zinul tahu bagaimana membuat muridnya senang belajar dengan kemampuannya bercerita, kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh semua guru bukan! []

Dakwah Dengan Menulis?

22 September 2014 - 5 Responses

    Dulu saya follower sebuah blog. Pemilik blog adalah seorang penulis yang telah menghasilkan tiga buku dan satu novel. Saya suka membaca tulisannya terutama karena gaya penulisannya yang tergolong unik—menggunakan bahasa sarkasme. Tapi blog itu sudah lama tidak di update lagi, belakangan saya tahu bahwa pekerjaan pemilik blog tersebut bukanlah murni seorang penulis tapi bekerja di perusahaan swasta. Dan kebanyakan tulisan kerennya itu dia tulis ketika masih kuliah. Saya rasa saya sudah tahu mengapa blog itu tidak update lagi—sibuk dengan pekerjaan.

    Hal serupa sepertinya terjadi dengan saya. Saya juga mempunyai blog, dan blog itu sudah lama tidak saya update. Alasannya, ya saya sudah cukup sibuk dengan pekerjaan saya. Deadline ditempat kerja cukup menyita waktu dan—yang krusial—menyita pikiran saya. Saya kira itu juga terjadi pada penulis favorit saya itu. Seharian sibuk dengan pekerjaan dan malamnya terlalu capek untuk menyentuh tuts keyboard. Ditambah ia sudah berkeluarga. Barangkali daripada bergelut dengan pikiran sendiri dan tidak ada yang menjamin tulisan yang dihasilkan nanti akan dibaca orang, lebih baik waktu senggang yang ada dihabiskan untuk menggoda istri bukan! Mungkin saya juga akan melakukannya.

    Di tiap tulisan yang saya tulis, saya berusaha menyelipkan nilai tertentu di dalamnya. Entah selama ini nilai tersebut tersampaikan atau tidak. Tulisan saya adalah dakwah saya, atau tepatnya syiar saya. Menurut saya, perlu dibedakan antara syiar dan dakwah. Dakwah merupakan tindakan menyeru seseorang untuk beriman kepada Allah SWT. Ini dilakukan secara face
to face, yakni interaksi lansung. Tidak satu arah layaknya tulisan, poster, spanduk, atau pun gambar.

    Syiar memang bagian dari dakwah. Hanya saja anda tidak bisa mengandalkan tulisan untuk mengubah persepsi seseorang terhadap Islam. Atau mencukupkan diri dengan tulisan, dan meninggalkan kontak dakwah.

    Coba perhatikan negara-negara barat, memang benar mereka menguasai segala macam media mulai media massa sampai elektronik, dan media-media tersebut digunakan untuk ‘mensyiarkan’ paham mereka—misal demokrasi. Tapi tidak ‘syiar’ saja yang mereka lakukan, mereka juga berani ‘mendakwahkannya’ sebagaimana presiden Bush pernah sampaikan, “Jika kita mau melindungi negara (AS) dalam jangka panjang, hal terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi”. Maka jangan heran di negeri ini mulai dari Presiden sampai tingkat camat, dalam pidatonya tidak ada yang tidak menyebut demokrasi. Negara yang berdemokrasi dianggap dapat memberikan kebebasan dan kesejahteraan. Padahal demokrasi tidak menjamin apa-apa kecuali kepentingan negara barat (Amerika) dapat terjamin.


    Tulisan saya adalah syiar saya, seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Cuma apabila saya tidak menulis, apakah saya tidak melakukan syiar? Sayangnya memang benar demikian. Entahlah apa saya harus menganggapnya hal biasa atau sesak karenanya. []peta

Kemerdekaan yang Hakiki?

26 August 2014 - 4 Responses

Beragam perlombaan diadakan untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-69, mulai lomba makan kerupuk, panjat pinang, tarik tambang, balap karung, atau lomba lainnya. Saya sudah lama tidak mengikuti perlombaan semacam itu, terakhir kali saya mengikutinya ketika duduk di bangku sekolah dasar.

Kalau saya tidak keliru, tidak ada perbedaan antara lomba Agustusan antara zaman saya dulu dengan yang ada sekarang. Jenis-jenis lombanya pun masih sama. Entah mungkin termasuk tradisi yang ingin dilestarikan sehingga tiap tahunnya lomba itu-itu saja yang diadakan.

Seiring bertambahnya usia, saya bisa memaknai nilai-nilai yang terkandung pada perlombaan tersebut. Misal lomba makan kerupuk, saya pikir itu ingin menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dulu, bagaimana susahnya makan sehari-hari walau itu sekedar makan kerupuk. Anak-anak masa sekarang setidaknya bisa merasakan kesusahan yang pernah dialami oleh kakek neneknya, dengan harapan muncul rasa syukur atas kemerdekaan yang diraih –terlepas bagi sebagian orang mencari sesuap nasi tetap saja masih susah.

Hanya saja, jika kesusahan di zaman penjajahan itu digambarkan dengan lomba makan kerupuk, apa tidak bisa lomba tersebut diganti, misalkan dengan lomba makan ubi. Menurut saya itu lebih mengenyangkan daripada makan kerupuk. Lagi pula lomba makan ubi dapat disosialisasi sebagai bahan makanan alternatif pengganti nasi yang bagi rakyat Indonesia sudah tertanam mindset “tidak makan nasi tidak makan apa-apa” yang sudah mendarah daging.

69 tahun Indonesia merdeka, bukan berarti pertanyaan “apakah Indonesia sudah merdeka?” tidak terdengar lagi justru beberapa tahun belakangan ini semakin santer terdengar. Melihat kondisi Indonesia saat ini yang tidak mempresentasikan sebagai negara merdeka. Ambil contoh, SDA negeri ini tidak lagi dikelola oleh anak bangsa sendiri tetapi 70%-nya dikuasai oleh perusahaan asing. Efeknya, 70% pendapatan negara bersumber dari pajak rakyatnya sendiri. Sedangkan kekayaan negeri ini malah dinikmati pihak luar, persis para penjajah dahulu ‘merampas’ kekayaan Indonesia.


Jika ditanya apakah kita sudah menjadi bangsa merdeka? saya pikir belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan hakiki, menurut saya, ketika tidak ada seorang pun atau suatu hal apapun yang menghalangi seseorang untuk bertaqwa kepada Allah SWT.

Anda tahu, ketaqwaan terkait erat dengan sejauh mana seorang muslim terikat dengan hukum syariat. Sayangnya saat ini umat Islam tidak dapat menjanlakan syariat secara menyeluruh (kaffah). Dalam bidang ekonomi, umat Islam tidak bisa melepaskan diri dari sistem ekonomi neo-liberal yang ditopang perbankan ribawi (non-riil), untuk kemudian beralih kepada sistem ekonomi Islam yang ditopang perdagangan jual beli (riil). Atau masih banyak syariat lainnya di bidang politik, hukum, pemerintahan yang tidak dapat diterapkan. Dan tentu saja institusi yang menerapkan syariat secara kaffah adalah Khilafah.

Barangkali Anda resah ketika saya menyebut kata ‘Khilafah”, gara-gara pemberitaan ISIS di media massa. Anda tahu, Khilafah yang dideklarasikan oleh ISIS tidak memenuhi syarat berdirinya Khilafah. Kekhilafahan semestinya memiliki wilayah secara otonom. Sedangkan yang dikuasai oleh ISIS adalah sebagian wilayah Suriah dan sebagian wilayah Irak. Jadi wilayah itu sesungguhnya masih berada di dalam kewenangan Suriah dan Irak.

Umat Islam seharusnya ‘iri’ dengan pemeluk agama Nasrani karena mereka mempunyai pemimpin spiritual tertinggi yakni Paus. Meski demikian, umat Islam tidak perlu meniru sistem Ke-Paus-an karena Islam mempunyai sistem Khilafah sebagai kepemimpinan umum umat Islam baik itu spiritual atau pemerintahan. Mungkin Anda akan berpikir, akan sangat susah untuk mengembalikan sistem Khilafah yang runtuh pada tahun 1924. Susah memang, tapi umat Islam akan terus susah tanpa adanya Khilafah bukan! []peta

*jadi apa definisi merdeka menurutmu?