Salahkan Golput?

24 November 2014 - One Response

Seorang teman di sosmed menulis status, “Pemilu kemarin tidak mau nyoblos. Sekarang meneriaki Presiden. Ingat, golputers punya andil besar memenangkan Jokowi.”

Terus terang pemilu kemarin saya termasuk golput. Golput bisa saja berperan dalam kemenangan Jokowi, seperti kata teman saya itu, tapi bisa juga memenangkan pak Prabowo bukan?

Ada banyak sebab mengapa orang memilih golput. Menurut saya dapat dikelompokkan 3 faktor, karena terpaksa, apatis, dan pemikiran. Terpaksa memilih golput, itu bisa disebabkan banyak hal mulai dari sakit ketika pencoblosan, tidak punya kendaraan ke TPS, tidak menerima undangan, sedang berada di luar kota, atau alasan teknis lainnya sehingga ia tidak bisa memilih.

Alasan berikutnya yaitu orang-orang yang apatis. Mereka tidak mau tahu dan tidak peduli terhadap pemilu. Siapa presidennya, mereka pun tidak mau ambil pusing.

Terakhir, golput karena hasil dari pemikirannya. Setelah mengamati realitas yang ada, mereka menarik kesimpulan untuk memilih menjadi golput dan konsisten dengan apa yang mereka yakini itu. Misal argumen yang menyebabkan ia golput, calon presiden selama ini bukanlah pilihan rakyat tapi dipilihkan oleh partai. Sistem pemilu memberlakukan pukul rata, tidak ada beda antara suara penjahat dengan seorang ulama yang memberi suara. Atau argumen, memilih wakil rakyat untuk menjalankan hukum buatan manusia itu bertentangan dengan akidah yang ia yakini, inil hukmu illa lillah, hak prerogatif membuat hukum hanya milik Allah SWT. Dan argumen-argumen lainnya.

Pada pemilu 2014 jumlah pemilih 190 juta dengan angka partisipasi: 72,18%. Hasil rekapitulasi KPU menetapkan pasangan Jokowi-JK memperoleh 53,15% dan Prabowo-Hatta 46,85%. Dilihat dari grafik, meski presiden terpilih adalah Jokowi, tapi kekuatan Jokowi untuk memerintah negeri ini hanya 1/3 saja. Sisanya dibagi rata dengan pendukung Prabowo dan pemilih golput. Tidak menutup kemungkinan pemilih golput akan beralih mendukung Jokowi, tapi melihat kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM hanya membuat mereka antipati. Di dalam pemilih golput sendiri, tidak ada data pasti berapa persen golput yang tergolong terpaksa, apatis, atau karena pemikirannya. Mereka yang memilih golput karena pemikirannya, saya yakin, jumlahnya tidaklah sebanyak 2 faktor tadi.

Kalau memakai logika teman saya itu, dia semestinya berpikir ulang. Kenaikan BBM merupakan kebijakan neo liberal. Ciri neo liberal, anda tahu, meniadakan subsidi termasuk subsidi BBM. Ketika dia ikut aktif dalam pemilu berarti dia ikut mengokohkan demokrasi, sekaligus ikut andil diterapkannya sistem ekonomi neoliberal, sistem ekonomi yang hanya kompatibel dengan sistem demokrasi! []

*sumber grafik dari Farid Gaban

Berhemat Dengan BBM

22 November 2014 - 2 Responses

Berapa uang yang Anda keluarkan ketika membeli bensin di SPBU? Kalau saya biasanya Rp15.000, baik itu sebelum atau setelah BBM naik. Bedanya, dulu saya memperoleh 2 literan-an bensin habis dalam 3 hari. Sekarang dengan naiknya BBM saya hanya memperoleh 1,7 liter.

Saya termasuk pengguna BBM untuk ‘dibakar’. Saya menggunakannya bolak balik dari kontrakan ke tempat kerja, begitu tiap harinya. Saya katakan untuk dibakar, ternyata saya baru tahu, katanya, ada BBM yang digunakan untuk ‘senang-senang’. Contoh misal, BBM yang digunakan oleh pasangan muda mudi untuk pacaran, keluyuran keliling kota pamer kemesraan yang boncengangannya menempel seperti perangko. Ya walaupun digunakan untuk hal yang tidak produktif, pada dasarnya tetap saja BBM dibakar.

Naiknya harga BBM, membuat orang memutar otak melakukan penghematan. Ada yang mengurangi shopping, membawa bekal dari rumah ketimbang makan di warung, atau mungkin berhenti merokok. Bagaimana dengan saya? Hal yang terpikirkan oleh saya adalah beralih transportasi dari sepeda motor ke sepeda pancal. Tapi ide ini akan sulit saya realisasikan mengingat saya harus berangkat kerja sekitar jam 6 pagi. Padahal pada jam itu saya masih sibuk dengan urusan mandi, nyeduh kopi, beli sarapan, baca berita olahraga, atau aktivitas pribadi lainnya.

Naik sepeda pancal bukan hal baru bagi saya. 10 tahun saya tercatat sebagai pengguna sepeda pancal dari rumah ke sekolah. Jaraknya 10 km dan memakan waktu sekitar 30 menit. Bersepeda di desa saya suatu hal yang menyenangkan, kiri kanan jalan yang Anda lihat pematang sawah yang memanjakan mata dan menyegarkan rongga dada. Beda kalau saya naik sepeda pancal di kota besar seperti Surabaya ini, Anda harus bersahabat dengan asap motor.

Ide lainnya, saya naik angkutan umum. Tapi ide ini pun susah saya realisasikan. Kebiasaan ngetem angkot hanya akan membuat saya terlambat kerja. Belum lagi saya perlu 2 kali naik angkot. Tidak efektif dan efisien. Karena itu barangkali orang-orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada menggunakan jasa transportasi massal. Efeknya, tentu kebutuhan BBM akan turut membengkak.

Alasan pemerintah mengurangi subsidi BBM untuk mengalihkan pada sektor infrastruktur termasuk pembangunan transportasi massal. Justru alasan ini menurut saya tidak masuk akal. Sama tidak masuk akalnya seperti wanita yang memilih menjadi (maaf) pelacur karena merasa yang mampu ia kerjakan hanya melacur. Padahal ia punya tangan untuk bekerja, tapi baginya satu-satunya alat yang bisa digunakan untuk bekerja hanyalah yang dibawah perut.

Membangun infrastruktur tidak harus mengurangi anggaran subsisi BBM. Cara lain, memotong anggaran belanja aparatur negara termasuk di dalamnya kunjungan kerja (kunker) DPR ke luar negeri yang mencapai Rp140 miliar. Atau, cara yang radikal tapi tak apa demi kepentingan rakyat, memutus kontrak kerja dengan Freeport yang tiap tahunnya berpenghasilan Rp70 triliun. Itu pun kalau pemerintah punya nyali melakukannya. Anda tahu, kacung tidak akan berani menentang majikannya bukan!

Mau tidak mau dengan naiknya harga BBM saya harus berhemat. Apalagi belum ada tanda-tanda gaji akan ikut naik. Lalu bagaimana caranya 1,7 liter bensin bisa cukup untuk 3 hari? Oh, saya bisa mencari boncengan. []

BBM dan Rokok

18 November 2014 - 6 Responses

“Selamat datang di indonesia, dimana ROKOK 16rb di BELl, sedangkan BBM 9rb di DEMO..” Itu status salah seorang di media sosial. Saya pikir rokok dan BBM berada di domain yg berbeda. Kalau harga rokok naik, apakah barang kebutuhan pokok ikut naik? Bandingkan kalau harga BBM yg naik.. Bahkan BBM naik dipastikan harga rokok juga naik, kecuali produsen rokok menemukan cara baru mendistribusikan rokoknya dengan cara online, misalkan.

Pikirkan ulang status anda. Jangan karena anda pegiat anti rokok, anda tidak mampu untuk berpikir proporsional. Tidak hanya masalah BBM dan rokok, masalah lain juga. Jangan karena anda pemilih capres no urut 2, mentang-mentang anda turut mendukung pilih “naik 2rb”. []

Balada Subsidi Dicabut

18 November 2014 - One Response

“Subsidi dialihkan ke sektor konsumtif ke sektor produktif.” Oh itu ide yang bagus. Barangkali sama seperti ada seorang bapak yang mengalihkan anggaran makan anaknya ke anggaran pendidikan. Itu juga ide yang bagus, tapi bapak yang baik adalah bapak yang mengerahkan sumberdaya yang ia punya, untuk menjamin anaknya mendapat makan, memperoleh pendidikan, dan sekali-sekali beli mainan. Sayang sang bapak tidak dapat melakukannya, karena sumberdaya yang ia miliki tidak benar-benar ia miliki, 70%-nya sudah dimiliki orang asing. Lho bagaimana bisa? oh itu para kapitalis yang tahu mekanismenya.

Sang anak harus mulai belajar untuk irit, disaat pejabat elit menjerit minta gaji naik. Sang anak belajar bagaimana hidup sederhana, dikala orang kaya menghamburkan uang untuk foya-foya. Jika sang anak sakit, dia bisa berobat asal punya kartu sehat. Sekolah masih sulit masih ada kartu pintar. Tapi entahlah, apa dengan menggunakan kartu sakti itu pemakainya menjadi pintar dan sehat! []

17 November 2014 - 5 Responses

hujan, sahabat awan yang mendung

menumpahkan bergalon-galon air sebagai senandung

hadirnya membasahi tanah lapang yang tandus gersang

ataukah, menyembunyikan kesedihan yang mengalir deras di pipi orang malang