Kemerdekaan yang Hakiki?

26 August 2014 - 4 Responses

Beragam perlombaan diadakan untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-69, mulai lomba makan kerupuk, panjat pinang, tarik tambang, balap karung, atau lomba lainnya. Saya sudah lama tidak mengikuti perlombaan semacam itu, terakhir kali saya mengikutinya ketika duduk di bangku sekolah dasar.

Kalau saya tidak keliru, tidak ada perbedaan antara lomba Agustusan antara zaman saya dulu dengan yang ada sekarang. Jenis-jenis lombanya pun masih sama. Entah mungkin termasuk tradisi yang ingin dilestarikan sehingga tiap tahunnya lomba itu-itu saja yang diadakan.

Seiring bertambahnya usia, saya bisa memaknai nilai-nilai yang terkandung pada perlombaan tersebut. Misal lomba makan kerupuk, saya pikir itu ingin menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dulu, bagaimana susahnya makan sehari-hari walau itu sekedar makan kerupuk. Anak-anak masa sekarang setidaknya bisa merasakan kesusahan yang pernah dialami oleh kakek neneknya, dengan harapan muncul rasa syukur atas kemerdekaan yang diraih –terlepas bagi sebagian orang mencari sesuap nasi tetap saja masih susah.

Hanya saja, jika kesusahan di zaman penjajahan itu digambarkan dengan lomba makan kerupuk, apa tidak bisa lomba tersebut diganti, misalkan dengan lomba makan ubi. Menurut saya itu lebih mengenyangkan daripada makan kerupuk. Lagi pula lomba makan ubi dapat disosialisasi sebagai bahan makanan alternatif pengganti nasi yang bagi rakyat Indonesia sudah tertanam mindset “tidak makan nasi tidak makan apa-apa” yang sudah mendarah daging.

69 tahun Indonesia merdeka, bukan berarti pertanyaan “apakah Indonesia sudah merdeka?” tidak terdengar lagi justru beberapa tahun belakangan ini semakin santer terdengar. Melihat kondisi Indonesia saat ini yang tidak mempresentasikan sebagai negara merdeka. Ambil contoh, SDA negeri ini tidak lagi dikelola oleh anak bangsa sendiri tetapi 70%-nya dikuasai oleh perusahaan asing. Efeknya, 70% pendapatan negara bersumber dari pajak rakyatnya sendiri. Sedangkan kekayaan negeri ini malah dinikmati pihak luar, persis para penjajah dahulu ‘merampas’ kekayaan Indonesia.


Jika ditanya apakah kita sudah menjadi bangsa merdeka? saya pikir belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan hakiki, menurut saya, ketika tidak ada seorang pun atau suatu hal apapun yang menghalangi seseorang untuk bertaqwa kepada Allah SWT.

Anda tahu, ketaqwaan terkait erat dengan sejauh mana seorang muslim terikat dengan hukum syariat. Sayangnya saat ini umat Islam tidak dapat menjanlakan syariat secara menyeluruh (kaffah). Dalam bidang ekonomi, umat Islam tidak bisa melepaskan diri dari sistem ekonomi neo-liberal yang ditopang perbankan ribawi (non-riil), untuk kemudian beralih kepada sistem ekonomi Islam yang ditopang perdagangan jual beli (riil). Atau masih banyak syariat lainnya di bidang politik, hukum, pemerintahan yang tidak dapat diterapkan. Dan tentu saja institusi yang menerapkan syariat secara kaffah adalah Khilafah.

Barangkali Anda resah ketika saya menyebut kata ‘Khilafah”, gara-gara pemberitaan ISIS di media massa. Anda tahu, Khilafah yang dideklarasikan oleh ISIS tidak memenuhi syarat berdirinya Khilafah. Kekhilafahan semestinya memiliki wilayah secara otonom. Sedangkan yang dikuasai oleh ISIS adalah sebagian wilayah Suriah dan sebagian wilayah Irak. Jadi wilayah itu sesungguhnya masih berada di dalam kewenangan Suriah dan Irak.

Umat Islam seharusnya ‘iri’ dengan pemeluk agama Nasrani karena mereka mempunyai pemimpin spiritual tertinggi yakni Paus. Meski demikian, umat Islam tidak perlu meniru sistem Ke-Paus-an karena Islam mempunyai sistem Khilafah sebagai kepemimpinan umum umat Islam baik itu spiritual atau pemerintahan. Mungkin Anda akan berpikir, akan sangat susah untuk mengembalikan sistem Khilafah yang runtuh pada tahun 1924. Susah memang, tapi umat Islam akan terus susah tanpa adanya Khilafah bukan! []peta

*jadi apa definisi merdeka menurutmu?

Selamat Hari Jadi Ke-3

22 August 2014 - 10 Responses

Notifikasi WordPress memberitahukan bahwa tepat hari ini, 18 Agustus 2014, blogku berumur 3 tahun. Aku lupa kapan membuat akun blog di WordPress, yang aku ingat bahwa pertama kali aku posting di blog yaitu pada tanggal 11 Nopember 2011 (11-11-11), dan tanggal itu kemudian aku anggap sebagai hari lahir blogku sekaligus awal kipraku menyusuri dunia tulis menulis. Tapi karena WordPress sudah terlanjur me-notifikasi maka aku ucapkan saja, “Selamat hari jadi buat blogku yang ke-3!”

Ide awal lahirnya blog ini adalah aku membutuhkan wadah untuk memajang hasil latihanku dalam menulis. Tentu saja, yang namanya latihan, adalah tempat untuk salah. Termasuk tulisanku banyak salahnya disana sini. Aku cukup percaya diri memajangnya karena yakin tidak orang yang akan membacanya. Seiring waktu dan traffic pengunjung blogku semakin bertambah, mau tidak mau aku harus memperbaiki kualitas tulisanku. Apakah tulisanku sekarang sudah bagus? Aku tidak tahu, tapi kurasa lebih baik daripada 3 tahun yang lalu.

Aku berlatih menulis bukan berarti ingin berprofesi sebagai penulis. Walau keinginan menjadi penulis itu selalu membayangi. Kupikir kemampuan menulis sama pentingnya dengan kemampuan untuk berbicara, kemampuan memasak, bertarung, atau kemampuan lainnya. A.S. Laksana, penulis buku Creative Writing, mengatakan ketika Anda menulis, otak Anda merekam dengan baik setiap gagasan Anda dan dengan demikian Anda tak mudah sesat dan tak akan kehilangan ilham. Menekuni disiplin ilmu apa pun, Anda perlu menulis agar otak Anda makin terasah, agar Anda tak kehilangan jejak atas segala yang telah Anda pelajari.

Dulu ketika sedang semangat-semangatnya menulis, aku cukup bangga tiap hari bisa menghasilkan satu tulisan. Mengikuti saran penulis Tere Liye, “1000 kata/hari selama 6 bulan, tidak alpa seharipun. Maka kalian tidak butuh guru menulis lagi, ” katanya. Tapi sekarang, yah aku membutuhkan seorang guru!

Ada yang menulis dengan alasan “aku menulis maka aku ada”, menulis untuk sebuah eksistensi. Semua penulis, anda tahu, akan mati tapi karyanya bisa abadi. Ketika jasad telah tiada namun tulisan-tulisan mereka di kenang sepanjang masa. Harus kuakui aku dulu berpikiran seperti itu, menulis untuk sebuah pengakuan. Pada akhirnya aku tidak membutuhkan pengakuan atau kebanggaan atas tulisan-tulisanku. Bukankah tangan yang menulis ini adalah milik-Nya, ide untuk menulis pun datang dari-Nya. Karyaku bukan benar-benar karyaku, tapi aku meminjam dari-Nya. Aku akan menyesal jika menulis untuk sebuah eksistensi bukan untuk mencari ridho Ilahi. Jadi apa yang patut aku banggakan? []peta

*kalau blogmu sudah berumur berapa sekarang?

Seberapa Muslim Kamu

12 August 2014 - 4 Responses

Ketika berada di kampung halaman, ada hal unik yang menimpa saya. Anda tahu saya adalah orang Madura asli. Tapi ketika berbincang dengan seorang bapak yang saya temui di tempat pencucian motor, bapak itu bertanya asal saya. Spontan saya jawab bahwa saya asli warga sini, orang Madura. Tapi bapak tadi masih menunjukkan paras wajah tidak percaya, menurutnya logat saya ketika berbicara tidak seperti logat orang Madura pada umumnya.

Barangkali enam tahun tinggal di tanah Jawa dan berinteraksi dengan orang Jawa telah mengikis logat Madura saya. Pengalaman serupa saya alami jika saya berbicara orang Jawa dengan bahasa Jawa yang saya kuasai, mereka tahu bahwa saya bukan orang Jawa dan langsung menanyakan saya asli mana. Saya kira, entah di Madura maupun di Jawa, saya dianggap bukan bagian dari mereka.

Saya kira wajar kalau bapak tadi bertanya identitas saya, melihat ciri yang mudah dikenali dari orang Madura yaitu logatnya tidak ditemui pada saya. Tapi bagaimanapun dan sampai kapanpun darah Madura akan mengalir dari diri saya. Sama seperti orang Madura pada umumnya, katanya, tidak bisa membedakan antara warna biru atau hijau maka begitu pula saya. Saya mempunyai jiwa entreuprener yang tinggi khususnya di bidang jual beli besi tua dimana banyak orang Madura sukses di bisnis tersebut.

Saya lebih takut jika kehilangan identitas saya sebagai seorang Muslim. Benar bahwa di KTP agama saya tertulis Islam tapi sudahkan perilaku saya mencerminkan seorang Muslim? Ciri seorang muslim minimal, menurut saya, ketika mendengar azhan dia segera ke masjid untuk menunaikan shalat. Ikut bersedih saat saudaranya di Plestina di bom bardir oleh zionis Israel. Jika Anda muslimah, di kehidupan publik Anda menutup aurat sebagaimana Anda menutup aurat ketika shalat.

Muslimah yang tidak menutup aurat, tidak perlu gusar ketika sering ditanya ‘apakah Anda Muslimah?’ atau pertanyaan lainnya seperti, kenapa Anda tidak menutup aurat? Pertanyaan-pertanyaan itu konsekuensi dari identitas Islam Anda yang ‘hilang’.

Bisa jadi seorang Muslim tidak menunjukkan kemuslimannya supaya keikhlasannya dalam beribadah terjaga atau tidak ingin memperlihatkan amal ibadahnya kepada orang lain. Maka dia memilih shalat sendirian ketimbang shalat di masjid, biar hanya dia dan Allah SWT saja yang tahu aktivitas ibadahanya. Jika demikian, saya takut ketika meninggal nanti, dia sengaja merahasiakan kematiannya biar orang lain ikhlas menerima kepergiannya menghadap sang Ilahi. Hanya saja, siapa nanti yang menshalati jenazahnya? []peta

*menurut kamu, perlu tidak menujukkan ‘identitas’ mu sebagai seseorang muslim?

Kapan Kawin ?

5 August 2014 - 13 Responses

Salah satu fase dalam hidup sudah saya, menyelesaikan studi di perguruan tinggi, sudah saya lewati. Efeknya, ketika lebaran kemarin tidak ada lagi teman ataupun kerabat yang bertanya, “Kapan lulus?” Tapi sayang muncul pertanyaan lainnya, “Kapan kawin?”

Ketika ditanya ‘kapan lulus?’, biasa saya jawab dengan santai. Dengan agak malas saya jawab, “Ya in sha Allah secepatnya!” Kapan itu dan seberapa cepat? Saya tidak tahu. Jawaban sekedarnya itu akan saya pakai pula untuk menjawab pertanyaan ‘kapan kawin?’ atau mungkin pertanyaan kapan lainnya.

Jujur saja rasa kesal itu ada ketika ada yang bertanya ‘kapan lulus?’ apalagi pertanyaan itu tidak hanya satu atau dua kali, tapi berulang-ulang kali. Saya pikir pertanyaan itu sama seperti halnya seseorang menanyakan, “kapan makan?” saya kira pertanyaan itu tidak perlu di ulang-ulang, karena si penjawab pun pasti mau makan. Jadi bersabarlah atau berangkali tukang tanya ini hadir memang untuk melatih kesabaran.

Jika dipikir-pikir, selama hidup barangkali saya akan ditanyai; ‘kapan lulus?’, ‘kapan kawin?’, ‘kapan punya anak?’ atau ‘sudah berapa anaknya?’, dan mungkin pertanyaan terakhir ‘kapan mati?’.

Terkait pertanyaan ‘kapan punya anak?’, saya baru tahu salah satu ustad kenalan saya menunggu 13 tahun lamanya untuk mempunyai anak. Fakta itu saya ketahui ketika saya bersilaturahmi ke rumah beliau. Saya tidak bisa membayangkan penantian beliau selama 13 tahun untuk mendapatkan seorang anak dari istrinya. Entah sudah berapa pertanyaan ‘kapan punya anak?’ yang beliau terima. Akankah beliau kesal, seperti saya, karena terus ditanya kapan? kapan? dan kapan?

Kata beliau, beliau menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan santai saja sebagaimana santainya seorang mahasiswa akhir ketika ditanya ‘kapan lulus?’. Barangkali beliau menjawabnya seperti saya, “Ya in sha Allah secepatnya!” Kapan itu dan seberapa cepat? Saya yakin beliau juga tidak tahu.

Ah, kuliah saya hanya molor satu tahun. Itu tidak ada apa-apanya dibanding kesabaran sepasang suami istri yang ‘molor’ 13 tahun untuk punya anak. Usaha keras saya untuk lulus kuliah, tidak bisa dibandingkan dengan usaha ‘keras’ suami istri itu. Diluar sana, masih banyak orang yang Allah SWT muliakan karena kesabarannya yang luar biasa. Tapi tentu saja, saya tidak bisa sesabar itu, menunggu 13 tahun misalkan, untuk bisa duduk di pelaminan. []peta

*menurut bayangan kalian, apa yang akan kalian lakukan jika 13 tahun lamanya tidak punya anak?

Hari Kemenangan ?

3 August 2014 - 2 Responses

Perhelatan Piala Dunia 2014 di Brazil sudah usai. Menarik menyimak komentar Louis Van Gaal setelah timnya Belanda kalah adu pinalti melawan Argentina di semifinal. Dia berujar, “Saya ingin menegaskan kepada kalian (wartawan) bahwa tim saya tidak kalah dari Argentina. Tim saya hanya kurang beruntung.”

Saya rasa itu komentar yang cerdas, dan saya senang di musim depan Louis Van Gaal menjadi pelatih klub Inggris, Manchester United. Dengan begitu, saya bisa melihat hal cerdas lainnya yang bisa ia lakukan terhadap sepakbola.

Meski tidak menjadi juara, menjadi finalis bukanlah prestasi yang tidak terlalu buruk bagi Argentina. Walau saya mengharapkan Argentina menjadi juaranya. Melihat Argentina musuh bebuyutan Brazil, akan sangat menyenangkan jika Argentina menjadi juara di kandang musuh bukan! Tapi skenario itu terjadi, kita sama-sama tahu bahwa tim Jerman yang menjadi pemenangnya dan sebagai pemenang mereka berhak mendapat piala emas yang diimpikan oleh setiap pemain sepakbola itu.

Umat Islam juga baru merayakan Hari Kemenangan yaitu Hari Raya Idul Fitri. Saya tidak begitu tahu kenapa disebut “Hari Kemenangan”. Anda tahu kemenangan identik dengan piala, hadiah, atau hal lainnya sebagai tanda kemenangan, seperti halnya piala emas yang di dapat oleh Jerman. Tapi apa yang kita dapat di Idul Fitrih?
Read the rest of this entry »