Ramadhan Kali Ini..

24 July 2014 - 7 Responses

Ramadhan kali ini memang unik. Rasa-rasanya saya tidak akan mengalami Ramadhan seperti Ramadhan tahun ini, 1435 H.

Uniknya, Ramadhan diwarnai dengan pesta Piala Dunia Brazil dan pesta ‘pora’ Pemilihan Presiden.  Kampiun Piala Dunia, seperti yang kita ketahui bersama, adalah tim Panser Jerman setelah di final mengalahkan tim Tango Argentina. Saya mengikuti perkembangan berita Piala dunia, apalagi tim yang saya dukung – Argentina — melaju sampai final. Saya tahu gol spektakuler Robin van Persie ke gawang Iker Casillas yang dicetaknya dengan melayang. Saya pun menikmati kekalahan telak 7-1 tim Samba Brazil. Kekalahan memalukan yang kelak bisa saya ceritakan kepada anak cucu saya.

Jika saya menikmati tiap moment piala dunia, lain halnya dengan pemilihan presiden. Saya tidak berminat dan ketidakminatan saya itu dimulai ketika saya mengetahui visi misi dari kedua capres itu tidak selaras dengan keinginan Sang Maha Pencipta. Sang Maha Pencipta, seperti yang tertulis di dalam kitab suci, menginginkan manusia untuk beriman dan bertaqwa kepadaNya, dengan cara melaksanakan setiap aturanNya. Tapi, para capres itu, tidak ada satupun yang menyatakan ingin membawa rakyat Indonesia untuk lebih beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dengan menerapkan segala syariatNya.

Lagipula saya perlu menjaga kepala saya supaya tetap waras dari gempuran fitnah, hasut, cekcok, black campaign, atau apalah namanya, yang saling dilontarkan oleh kedua pendukung capres. Tujuannya, tentu saja menjatuhkan salah satu capres dan meningkatkan elektabitas capres yang didukung.

Saran saya kepada para pendukung capres; jika Anda pendukung Prabowo-Hatta maka tontonlah TV One atau televisi dibawah saham Hary Tanoe, karena berita kemenangan Prabowo banyak diberitakan stasiun televisi tersebut. Jika Anda pendukung Jokowi-JK maka tontonlah Metro TV, seperti halnya Prabowo, kemenangan Jokowi banyak diberitakan disana. Jika Anda bukan pendukung keduanya, itu bagus, Anda tidak perlu menonton TV. Waktu senggang yang ada dapat Anda manfaatkan untuk tadarus-an. Read the rest of this entry »

ISIS

10 July 2014 - 4 Responses

Saya perhatikan, mereka yang mendukung ISIS, atau yang oleh media sering disebut Khilafah Iraq, adalah orang-orang yang mempunyai semangat Jihad diatas rata-rata. Saya berkata demikian karena kenal beberapa orang diantara mereka dan saya tahu dia pro ISIS.

Mungkin mereka beranggapan bahwa orang yang tidak mendukung ISIS, menegakkan Khilafah melalui Jihad, adalah orang yang takut untuk berjihad. Saya pikir mereka salah jika beranggapan seperti itu. Jihad, Anda tahu, bukan metode untuk menegakkan Khilafah. Metode untuk menegakkan Khilafah, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, adalah dengan thalabun nusrah (menerima kekuasaan dari umat).

Urutannya, Khilafah tegak dulu baru kita berbicara Jihad*. Selama Khilafah belum ada, semangat Jihad itu akan terus membara dalam jiwa. Menunggu untuk dikobarkan. Menyebarkan risalah ketauhidan ke penjuru alam, sehingga terang benderang dunia ini oleh Islam. Sebagaimana tersingkapnya gelap ketika sang fajar datang. In sha Allah. []

Nb : * pada kondisi tertentu Jihad bisa dilakukan, misal Jihad rakyat Palestina terhadap pendudukan zionis israel.

Berhenti Halaqah?

9 July 2014 - 2 Responses

Salah seorang teman blogger bertanya kepada saya. Teman yang belakangan saya tahu berada satu jamaah gerakan yang sama dengan saya. Dia bertanya, “Sebaiknya aku nerusin halaqah nggak ya?”

Saya tipe orang yang tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan orang lain. Biasanya saya akan menjawab, “Ya terserah kamu, kamu yang jalanin kog?” Tapi kali ini saya kira perlu memberi sedikit penjelasan.

Saya hampir lupa bagaimana saya sampai tergabung dalam kelompok jamaah ini. Awalnya saya ikut kajian. Mungkin karena materi kajian itu sangat menarik maka saya mengikuti secara rutin. Tidak berapa lama saya ditawari untuk halaqah — kajian keislaman yang terdiri dari 1-5 orang saja dan dipimpin oleh satu musrif (mentor) diadakan dua jam sekali selama satu minggu. Tentu saja saya mengiyakan. Waktu itu saya sedang semangat-semangatnya mempelajari Islam.


Lama ikut halaqah, sedikit banyak saya jadi tahu seluk-beluk dari jamaah yang saya ikuti. Untuk apa jamaah ini dibentuk dan tujuan dari halaqah yang saya ikuti. Pada titik ini, saya rasa struktur berpikir saya mulai terbentuk sehingga saya mempunyai semacam ‘pisau bedah’ untuk memilah pemikiran-pemikiran di luar sana, apakah pemikiran itu diterima oleh akal sehat saya atau tidak. Termasuk pemikiran-pemikiran dari jamaah yang saya ikuti. Dan sejauh ini, akal sehat saya tidak menemukan hal yang patut untuk ditolak.
Read the rest of this entry »

Kecanduan Gadget?

25 June 2014 - 7 Responses

Beberapa hari lalu, ketika balik ke Surabaya dari kampung halaman, saya lupa untuk membawa hardisk saya. Hardisk itu ketinggalan, dan yang saya ingat terakhir kali hardisk itu dipinjam oleh kedua adik saya untuk meng-copy film animasi. Saya yakin posisi hardisk itu masih tercolok di komputer adik saya.

Tanpa hardisk, anda tahu, membuat saya was-was. Hampir semua data penting ada di sana mulai materi kuliah, kerjaan, master software, film, lagu, dan file penting lainnya. Mengingat komputer adik saya rawan virus, saya was-was data saya akan hilang.

Terhitung empat hari saya tanpa hardisk. Hardisk itu saya bawa kemana-mana karena data kerjaan saya ada disana dan jika saya bosan saya bisa menonton film kesukaan saya kesekian kalinya atau sekedar menyetel mp3. Saya khawatir dengan tidak adanya hardisk, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Bagaimana dengan kerjaan saya? Apa yang akan saya lakukan di waktu senggang? Bagaimana jika ada yang minta data sedangkan hardisk saya tidak ada? Atau pertanyaan-pertanyaan lainnya gara-gara hardisk saya tidak ada.

Ternyata, kekhawatiran saya tidak terbukti. Selama empat hari itu hidup saya normal-normal saja. Justru ketergantungan saya terhadap hardisk, sepertinya membuat hidup saya tidak normal!


Tidak hanya hardisk, seringkali kita sangat tergantung dengan HP atau gadget. Atau kalau tidak mau dikatakan kecanduan. Menurut survei, orang Indonesia menghabiskan 9 jam ‘memolotin’ layar gadgetnya. Wajar, mulai dari bermain game, WhatsApp, Line, Instagram, Path, Facebook, Twitter, atau aplikasi lainnya semuanya dikerjakan dalam gadget kita. Saya bisa tahu karena saya pernah kecanduan.
Read the rest of this entry »

Blacklist

23 June 2014 - Leave a Response

Saya baru saja mem-blacklist sebuah toko. Masalahnya, gas elpiji 3 kg yang dibeli di toko tersebut tidak sampai seminggu sudah habis. Biasanya pemakaian gas elpiji sekitar satu bulan. Kemungkinan cepat habisnya gas bisa karena kebocoran atau gas elpiji tersebut ‘oplosan’. Dugaan saya eplpiji itu di oplos. Pertama karena kalau bocor tentu mudah diketahui dari bau atau suara gas bocor, tapi itu tidak. Kedua, ketika awal membeli, segel tutup gas mudah dilepas tidak seperti biasanya yang saya harus menggunakan gunting untuk membukanya, ini tidak langsung copot saja.

Toko itu, tidak bisa saya sebut namanya, menambah daftar toko yang masuk blacklist saya. Sebelumnya ada toko-toko yang menjual minuman keras. Jika ada toko yang menjual barang lebih mahal daripada toko lainnya, saya kira itu masih taraf kewajaran, tidak perlu dimasukkan dalam blacklist saya.

Blacklist, anda tahu, semacam daftar yang tidak disukai. Apa saja yang tertulis di daftar itu lebih baik dihindari karena yang masuk di black list adalah mereka yang melakukan hal-hal buruk atau pernah merugikan anda. Selain toko, ada kategori blacklist lainnya seperti nama orang (tokoh), warung makanan, warnet (mulai jarang). Tokoh yang masuk blacklist saya, jika anda ingin tahu, seperti Bashar Assad (Presiden Syria), As Sisi (Presiden Mesir sekarang), Barrack Obama dan Bush (Presiden Amerika), Jalaluddin Rahmat (Syiah), Ulil Abshar Abdallah (JIL).

Assad, As Sisi, ataupun Bush merupakan orang yang bertanggungjawab meninggalnya ratusan atau bahkan ribuan umat Islam kerena kebijakan mereka. Jadi sangat pantas mereka masuk dalam black list. Bahkan bagi sebagian orang, mereka pantasnya masuk dalam deadlist. Untuk Jalaluddin Rahmat maupun Ulil, anda harus berhati-hati dengan pemikiran mereka. Mengikuti mereka, bisa-bisa anda menyimpang dari ajaran Islam.

Saya pikir, kita perlu mempunyai semacam blacklist. Fungsinya supaya mengingatkan kita atas keburukan-keburukan mereka, kita jadi tahu mana lawan mana kawan, atau setidaknya tidak melakukan kesalahan dua kali. Misal, saya mem-blacklist sebuah warung makanan karena saya pernah membeli nasi bungkus dan menemukan pada daging ayamnya terdapat ulat-ulat kecil (belatung). Dengan memasukkan warung tersebut dalam blacklist, kita tidak melakukan kesalahan dua kali dengan membeli makanan di warung tersebut meskipun ada teman yang mentraktir kita di warung itu. Lagipula, masih banyak warung yang lebih sehat yang bisa kita singgahi.

Tentu tidak fair jika saya hanya membuat blacklist, maka saya membuat ‘respectlist’ yaitu daftar orang-orang yang patut saya hormati karena kerja keras mereka atas usaha yang mereka capai. Mereka telah membantu banyak orang dan meningkatkan harkat hidup orang banyak. Mereka adalah inspirasi kehidupan. Di kegelapan malam saya tidak segan-segan untuk memohonkan kepada Allah agar menurunkan rahmat dan berkah kepada mereka. Siapa saja mereka? Yang pasti nama kedua orang tua saya masuk di dalamnya, bahkan di jajaran atas.

Saya harap saya tidak masuk dalam blacklist seseorang. Kalaupun ada, saya harap itu seperti bagaimana Amerika mem-blacklist Ust Felix Siauw untuk masuk ke Amerika. Ust Felix Siauw pernah dicekal di bandara internasional Amerika. Padahal kedatangan Beliau ke negeri paman Sam tersebut untuk memenuhi undangan ngisi pengajian. Justru karena pengajian itu barangkali Ust Felix tidak boleh masuk Amerika. Saya kira, Amerika seharusnya mem-black list karena saya termasuk orang yang anti demokrasi barat! []